Desa Terlarang | Part 10

 Rintik hujan dari malam tadi terus berlanjut hingga pagi. Langit yang tertutupi awan hitam menutupi desa ini. Para penduduk terlihat berdesakan di sebuah rumah milik salah satu warga, terlihat mereka saling bergunjing dan berbisik. Keadaan di dalam rumah sangat kacau, terdengar raungan seorang wanita yang menjerit histeris penuh kepedihan yang mendalam. Seorang lelaki nampak mencoba menenangkan wanita itu dengan raut wajah sedih yang mendalam. Kami berbaur dengan penduduk disana, penasaran apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini. Aku mencoba menanyai beberapa warga namun nampaknya mereka memilih diam dan membuat kami semua semakin penasaran. Mbah Carik bersama dengan Mbah Sarwoto dan Mbah Gani nampak tergesa-gesa di datang ke tempat ini, di belakangnya terlihat juga Arif dan Bewok mengikutinya. Bewok dan Arif segera membuka jalan untuk Mbah Carik dan juru kunci desa ini.

"Jan, neng ndi nggonne ?" ( Jan dimana tempatnya ) Kata Mbah Carik

"Tiyang mriki Mbah." ( Disini Mbah ) Jawab Pak Paijan sambil menunjuk kearah kamar

Tanpa banyak bicara Mbah Carik segera menghampiri tempat yang di tunjuk oleh Pak Paijan. Mbah Carik segera membuka pintu kamar yang tidak tertutup dengan rapat itu. Pemandangan mengerikan tersaji di kamar tersebut, terlihat sesosok mayat tanpa kepala tergeletak di samping tempat tidur dengan genangan darah di sekitarnya.

"Innalilahi wa innalilahi rojiun." Ucap Mbah Carik

Suara tangisan istri Pak Paijan semakin menjadi-jadi setelah mendengarnya. Para penduduk di luar pun semakin ramai dan saling berbisik mendengarnya.

"Ariya neng ndi, Wok ?" ( Ariya dimana, Wok ) Tanya Mbah Carik kepada Bewok

"Ariya jemput Mas Bambang karo Mbah Sarkem." Jawab Bewok

Mbah Gani masuk ke dalam kamar dengan membawa kain jarik untuk menutupi jenazah Widya yang meninggal dengan tragis. Mbah Carik pun segera keluar memberitahu kepada warga apa yang sebenarnya terjadi dan meminta kepada para penduduk desa ini untuk membantu pemakaman Widya. Kami segera membantu beberapa warga menyiapkan pemakaman untuk Widya. Bayu dan Angga terlihat pergi bersama Bewok dan penduduk lainnya menuju tempat pemakaman sedangkan kami yang tersisa membantu persiapan di rumah Pak Paijan. Suasana berkabung menyelimuti desa ini, awan hitam menurunkan sedikit rintiknya seakan menangis melihat kejadian mengerikan ini. Mas Bambang bersama dengan Mbah Sarkem dan Ariya telah datang ke rumah duka. Mas Bambang segera menuju kerumah karena telah di tunggu oleh Mbak Carik dan juru kunci yang lain. Mbah Sarkem nampak mencoba menenangkan istri Pak Paijan yang masih histeris melihat kematian anaknya yang tidak lazim itu. Aku bersama Topa dan Rijal membantu Arif dan Ariya membuat tenda sederhana untuk menghalau rintikan air hujan di depan rumah Pak Paijan. Aku sedikit melihat kearah Mbah Carik dan juru kunci yang terlihat sedang berdiskusi serius di dalam.

**

Tempat pemakaman umum yang terletak di brang kidul berdekatan dengan jalan masuk ke desa ini terasa sangat kelam dengan banyaknya pohon jati yang tumbuh di dalamnya. Bayu dan Angga mengikuti Bewok dan warga lainnya masuk ke dalam pemakaman tersebut. Mereka segera membuat liang lahat ke tempat yang sudah di pilih untuk menguburkan Widya. Tempat yang bersebelahan dengan sebuah makam tanpa nama menjadi tempat peristirahatan terakhir untuknya.

"Kematian Widya hampir sama dengan kematian Mbah Darmo dua puluh tahun lalu." Kata seorang warga yang bernama Sukir

"Memang, Lek. Aku sendiri masih ingat jelas kejadian waktu itu." Jawab seseorang sambil melihat kearah makam tanpa nama tersebut
 
"Saat itu pun aku masih 11 tahun, Lek. Aku inget waktu bapak ibukku hampir tiap malam nyuruh aku sembunyi di kolong tempat tidur." Tambah Bewok

"Semoga kematian Widya gak mengundang teror itu lagi." Tambah Lek Sukir yang terlihat ketakutan dari sorot matanya

"Maaf Pak, memang apa yang sebenarnya terjadi 20 tahun lalu ?" Tanya Bayu yang terlihat penasaran mendengar percakapan mereka

Bewok dan beberapa warga sontak melihat kearah Bayu, mereka baru sadar bahwa ada Bayu dan Angga disana.

"Ekh, Mas e." Kata Bewok

"Hehehe, nggeh mas." Jawab Angga sambil meringis

"Jadi, Mas. Sebenarnya ada apa dengan kejadian 20 tahun yang lalu ?" Tanya Bayu kepada Bewok

"Sebenarnya ada sesuatu di desa ini mas." Kata Lek Sukir sambil duduk di galian liang lahat

"Memangnya ada apa Mas ?" Tanya Bayu sambil menggantikan Lek Sukir mencangkul kuburan

"Dulu, Mas. Desa ini pernah di teror sampai-sampai di sebut sebagai desa orang mati." Tambah Lek Sukir sambil menghidupkan rokok lintingan

"Hah ! Piye, Lek ?" Tanya Angga agak terbelalak

"Beneran, Mas kejadian itu pas aku masih umur 11 tahun." Tambah Bewok

"Yah itu sudah jadi cerita 20 tahun yang lalu, Mas. Gak elok di ungkit lagi." Tambah Lek Sukir yang sepertinya tidak ingin pembicaraan ini meluas

"Kasian Bewok kalau diungkit-ungkit terus soalnya kelihatan umurnya sudah berkepala tiga." Tambah Lek Sukir sambil tertawa

"Yo ben toh, Lek." Jawab Bewok sedikit malu

"Mara i awakmu wis tuek, Wok. Ndang rabi." ( Makanya itu dirimu dah tua, cepet nikah ) Sahut salah warga yang ikut membantu disana

"Kakean nuntut mbek Mas Bambang sampean, Wok." ( Kebanyakan nuntut dengan Mas Bambang dirimu, Wok ) Seloroh orang di situ

"Halah, ben sakti kok." ( Halah, biarin biar sakti kok ) Jawab Bewok ketus

"Sakti nek ra duwe bojo yo nggo opo, Wok. Opo ape melok Ariya sampean nganti umur 42 ora rabi-rabi." ( Sakti kalau tidak punya istri ya buat apa, Wok. Apa mau ikut Ariya dirimu umur 42 gak nikah-nikah ) Kata Lek Sukir di iringi dengan gema tawa dari kami

Bewok terlihat tersenyum masam mendengar ejekan dari para penduduk desa di sana. Dia hanya menggaruk kepalanya menahan malu. Bayu dan Angga tersenyum melihat candaan mereka dan melanjutkan pekerjaannya masing-masing.

**

Suasana di dapur terlihat penuh bisik dan omongan sana-sini dari para ibu-ibu yang membantu menyediakan konsumsi untuk orang yang membantu pemakaman Widya. Julia, Laras dan Yuni terlihat sibuk mengiris bumbu-bumbu dapur. Yuni yang masih sedikit pucat mendapat banyak perhatian dari para ibu-ibu disana.

"Kamu gak apa, Yun ?" Tanya Julia

"Gak apa kok, Ia." Jawabnya sambil mengiris bawang di depannya

"Kalau kurang enak badan istirahat aja, Yun. Gak apa kok." Tambah Julia

"Gak kok aku kuat." Ucapnya sambil mengangkat kedua lengannya

Julia tersenyum melihat Yuni yang baik-baik saja, walaupun terkadang Julia masih merasa khawatir dengan kejadian yang dialami Yuni sejak berada di desa ini.

"Tapi bener lo mbak yu. Bukannya saya bicara tanpa alasan, sudah banyak kok saksi matanya." Kata seorang Ibu-Ibu disana dengan suara agak pelan

"Ish mbak iki, jangan gitu. Gak boleh." Sahut Ibu-Ibu yang berada di smpingnya

"Tapi mbak yo." Katanya sambil mendekatkan dirinya ke lawan bicaranya

"Mbak karsih yang rumahnya di brang kulon lihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Ariyani sering muncul dirumahnya." Kata Ibu tersebut

"Akh yo gak mungkin toh, Mbak. Wong Ariyani sudah meninggal 20 tahun yang lalu." Jawab lawan bicara

"Ish mbak yu nek gak percaya ya sudah." Jawab Ibu tersebut lalu pergi

"Tapi yok aku kasihan lihat Mbak Mini." Kata Ibu-Ibu yang sedang menggiling cabe di sebelah Yuni dan Julia

"Nggeh, Mbak. Anak satu-satunya meninggal tragis gitu." Jawab ibu-ibu di depannya

"Kematian Widya persis seperti kematian Mbah Darmo dulu." Tambahnya

"Apa mungkin ini kutukan dari keluarga Sugeng yang menuntut balas yo, Mbak. Sama kayak 20 tahun lalu." Tambah Ibu yang sedang menggiling cabe

"Hush ! Ojo ngomong koyok ngono Mbak." Jawab Ibu di depannya

"Tapi yo, Mbak. Awak e dewe gak ngerti toh kalau misalnya keluarganya Sugeng masih dendam, soale anaknya si A-"

Pembicaraan Ibu itu terhenti di saat Mbah Sarkem masuk ke dapur. Mbah Sarkem lalu menghampiri Julia dan Yuni lalu duduk di sebelah Yuni.

"Ngopo demam awakmu Nduk ?" Tanya Mbah Sarkem kepada Yuni

"Mboten kok Mbah."

Mbah Sarkem terlihat tersenyum melihat Julia dan Yuni. Bisik-bisik yang awalnya terdengar sana-sini pun terhenti saat kedatangan Mbah Sarkem.

**

Setelah membersihkan diri Aku, Topa dan Rijal di susul Bayu dan Angga segera kembali kerumah duka untuk membantu proses pemakaman. Penduduk desa pun terlihat berbondong-bondong untuk melayat ke kediaman Pak Paijan. Kami duduk di luar bersama Ariya dan Arif, dari dalam masih terdengar isakan tangis pilu yang sungguh menyayat hati. Hujan gerimis mengiringi pemakaman Widya. Aku cukup bergidik ngeri saat melihat sesosok jenazah tanpa kepala yang di kafani di masukan ke dalam keranda jenazah. Pemakaman ini tetap di lakukan walau jenazah tanpa kepala, hal ini di sebabkan karena kepala Widya tidak di temukan di mana pun, dan Pak Paijan sendiri selaku ayah dari Widya pun mengizinkan anaknya di makamkan tanpa kepala. Aku membantu mengangkat keranda sampai ke tempat pemakaman umum di desa ini. Beberapa kendala pun sempat terjadi saat tidak ada satu pun warga yang berani untuk membuka tali jenazah Widya. Namun hal itu tidak berlangsung lama setelah Pak Paijan serta Mbah Sarwoto dan Mas Bambang yang turun ke bawah. Pemakaman pun selesai kami dan para penduduk meninggalkan tempat pemakaman, tersisa hanya Pak Paijan, juru kunci dan Mbah carik serta sebagian warga masih di sana.