Desa Terlarang | Part 11
"Aku minta maaf atas kejadian semalam, Dek." Kataku membuka pembicaraan
Yuni terlihat tersenyum dan mengangguk memaafkan kelakuan pengecutku saat meninggalnya bersama Topa malam itu. Topa menepuk pundakku dan tersenyum, dia juga meminta maaf atas sikapnya malam tadi.
"Lain kali kalau mau lari kasih aba-aba dulu makanya, Ya. Biar bisa lari bareng-bareng." Seloroh Topa
Aku tersenyum kecut mendengarnya, Topa hanya tertawa melihatku di susul gelak tawa yang lainnya. Suasana menjadi lebih cair dari tadi malam.
"Tapi aku sedikit aneh dengan warga disini. Sepertinya ada hal yang tidak ingin kita ketahui." Ucap Bayu
"Benar ada sesuatu yang terjadi di desa 20 tahun yang lalu." Tambah Bayu
"Aku juga mendengarnya, Mas. Ibu-ibu tadi bergosip soal itu di dapur." Ujar Yuni
"Memang ada apa, Yu ?" Tanyaku penasaran
"Tadi waktu aku bantu gali liang lahat buat pemakaman, aku mendengar cerita bahwa dulu sempat terjadi sesuatu di desa ini." Ucap Bayu
"Desa ini di juluki sebagai desa orang mati." Tambah Angga
"Hah !" Aku sedikit terkejut dengan pernyataan Angga
"Benar, Ya. Ada sesuatu yang terjadi disini hingga desa ini di sebut juga desa orang mati." Ujar Bayu
"Gimana ceritanya, Yu ?" Tanya Topa
Bayu mengangkat ke dua bahunya.
"Entah penduduk disini sepertinya masih berusaha menutupinya dari orang luar. Karena hanya sebatas itu yang kami tahu." Ucap Bayu sambil melirik Angga
"Tapi sepertinya hal ini masih ada sangkut pautnya dengan Alif yang tinggal di rumah Mbah Sarkem." Tambah Yuni
"Maksud mu Alif yang kita temui tadi malam, Dek ?" Tanya Topa
"Mungkin sih, Mas." Jawab Yuni agak ragu
Aku berpikir sejenak mendengar penjelasan dari Yuni. Aku pun sedikit menyadari ada sesuatu yang aneh di desa ini.
"Tapi Cah." Ujar Rijal
Kami segera melihat kearah Rijal yang sepertinya sedang ingin membicarakan sesuatu.
"Soal kematian Widya, tentu saja hal ini merupakan satu tindak kejahatan." Tambah Rijal
"Benar, aku mendengar pembicaraan Mbah Carik dan beberapa warga bahwa mereka sudah melaporkan hal ini ke pihak yang berwajib." Ucap Topa
"Kita hanya bisa menunggu lagi pula kita tidak bisa ikut campur dalam hal ini." Tambah Laras
"Tapi aku masih gak habis pikir. Ada orang se keji itu." Ucap Angga
Aku menatap langit hitam dengan banyak pertanyaan di kepala.
**
Mbah Carik berpamitan kepada Pak Paijan untuk kembali kerumah. Ditemani oleh beberapa juru kunci yang lain dan hanya tinggal Mbah Sarwoto yang masih disana menemani Pak Paijan sedikit lebih lama. Ariya dan Bewok di tugaskan oleh Mbah Carik untuk mengantar Mbah Sarkem pulang ke rumahnya. Sedangkan Mas Bambang, Mbah Carik serta Arif berjalan pulang bersama.
"Baru pulang Mbah, Mas." Sapa kami saat melihat Mbah Carik dan Mas Bambang serta Arif berjalan melewati depan rumah kami.
"Mampir dulu Mbah, Mas." Ujar Rijal mengundang mereka bertiga
Mbah Carik dan Mas Bambang pun menerima undangan kami. Arif menolak undangan kami dengan halus dan mengatakan ada sesuatu yang harus di urus di rumah. Kami mempersilahkan Mbah Carik dan Mas Bambang masuk kerumah, Julia dan Laras pergi menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk Mbah Carik dan Mas Bambang.
"Piye, Dek kegiatan kalian ?" Tanya Mbah Carik
"Alhamdulilah, Mbah lancar kok." Jawab Rijal
"Yah mungkin ada sedikit kendala, jadi mohon di maklumi." Tambah Mbah Carik
"Iya, Mbah gak apa kok." Ucap Rijal
"Maaf, Mbah. Sebenarnya ada sesuatu yang menggangu pikiran kami." Kataku
Mbah Carik langsung menatap kearah ku heran
"Mengganggu gimana maksudnya, Dek ?" Tanya Mbah Carik
"Selama kami disini banyak gangguan aneh yang tak masuk akal, Mbah." Tambahku
Mbah Carik manggut-manggut mendengar penjelasanku. Yuni dan Topa juga membuka cerita tentang hal apa saja yang kami alami selama di sini. Julia datang menghampiri kami dengan membawa dua gelas teh hangat untuk Mbah Carik dan Mas Bambang, dia pun lalu ikut duduk bersama kami di susul laras yang keluar dari dapur.
"Yah soal itu nanti biar saya yang mengatasi bersama dengan juru kunci yang lain." Kata Mbah Carik sambil melihat ke arah Mas Bambang yang sedang meniup ke arah minumannya.
"Ekh, nggeh Mbah." Jawab Mas Bambang yang salah tingkah setelah di perhatikan Mbah Carik
Kami sontak di buat tertawa dengan kelakuan Mas Bambang. Jujur saja bisa dibilang Mas Bambang orang yang sangat dapat mencairkan suasana di tengah kondisi saat ini, walaupun terkadang beliau bisa sangat serius di waktu-waktu tertentu.
"Maaf, Mbah." Ucap Bayu yang terlihat sangat serius kali ini
"Sebenarnya ada rahasia apa yang di sembunyikan di desa ini ?" Tanya Bayu
Mbah Carik terlihat menghela napas panjang mendengar pertanyaan Bayu. Beliau lalu meminum teh di depannya dan menatap tajam kearah kami.
"Mmm, maaf Mbah kami hanya penasaran soal itu, sebab saat aku membantu menggali kuburan tadi saya sedikit mendengar tentang kejadian dua puluh tahun lalu di desa ini." Tambah Bayu
"Dua puluh tahun lalu ya..." Jawab Mbah Carik sambil meletakan minuman di atas meja
Kami menunggu kelanjutan kata dari Mbah Carik dengan rasa penasaran.
"Sebenarnya itu bukanlah rahasia. Hanya saja memang ada sesuatu yang terjadi dan sengaja kami tutupi karena ini aib bagi desa ini." Kata Mbah Carik
"Maksud Mbah aib kalau desa ini pernah di sebut dengan desa orang mati ?" Tanya Angga
Rijal nampak menyenggol siku Angga, bagaimana pun sikap Angga yang nyeleneh dan terkadang tanpa sopan santun membuat kami agak cemas apabila ada pihak yang tersinggung dengan ulahnya.
"Yah itu memang benar seperti yang di katakan oleh nak Angga. Desa ini pernah mendapat julukan sebagai desa orang mati." Jawab Mbah Carik
"Dua puluh tahun yang lalu, desa ini pernah menghadapi sebuah teror yang menyebabkan banyaknya kematian penduduk disini." Tambahnya
"Teror, maksudnya teror seperti apa Mbah ?" Tanya Topa penasaran
"Apakah pernah ada wabah yang menyebabkan kematian penduduk di sini dua puluh tahun yang lalu Mbah ?" Tanyaku
"Bukan, teror ini bukan wabah bukan pula penyakit. Teror ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita pikirkan dengan akal sehat." Jawab Mbah Carik
Aku mengernyitkan dahiku, bingung tentang penjelasan Mbah Carik.
"Dua puluh tahun yang lalu desa ini pernah di teror oleh para pembawa kerondo mayit." Kata Mas Bambang memberikan penjelasan lebih kepada kami
"Mungkin Mas dan Mbak disini pernah dengar tentang lampor." Tambah Mas Bambang
Aku sedikit mengingat tentang lampor. Lampor sendiri di kisahkan sebagai keranda terbang yang mengetuk pintu rumah, dan naas bagi siapapun yang membuka pintu maka hanya kematian yang ada di depannya.
"Di desa ini ada sesuatu persis yang bisa di bilang mirip lampor tapi bukan lampor." Ujar Mas bambang
"Konon ada beberapa orang dahulu di desa ini yang melihat sosok para pembawa kerondo mayit." Tambah Mas Bambang
"Jadi... Akh tak ngumbe sek nko adem." ( Jadi... Akh aku minum dulu nanti dingin ) Kata Mas Bambang
Kami sedikit tertegun dengan sikap Mas bambang yang tiba-tiba.
"Hmmm, manis seperti yang buat." Ujap Mas Bambang sambil menatap ke arah Julia, Laras dan Yuni
"Ingat Cuplis di rumah galak, Mbang." Kata Mbah Carik
"Gak galak Pak. Cuma kejem." Kata Mas Bambang yang clingak-clinguk ke arah luar sambil memperlihatkan ekspresi melotot
Kami tertawa melihat tingkah konyol Mas Bambang.
"Nah, baiklah sampai mana tadi ?" Tanya Mas Bambang sambil mengusap lututnya
"Lampor Mas." Jawab Yuni
Mas Bambang lalu memejamkan matanya, suasana menjadi hening beberapa saat.
"Mmm, Mas ?" Panggil Yuni kepada Mas Bambang
"Ekh, Astagfirulloh lupa saya." Jawab Mas Bambang
Mbah Carik terlihat tertawa melihat tingkah laku Mas Bambang. Suasana yang awalnya tegang kini berangsur-angsur mencair kembali.
Mas Bambang melanjutkan ceritanya tentang kejadian dua puluh tahun yang lalu kepada kami. Para pembawa kerondo mayit di gambar sebagai sosok pocong yang berjumlah sekitar enam pocong dengan kasih kafan yang sudah lusuh dan berwarna merah darah. Setiap kali para pembawa kerondo mayit ini berkeliling brang, maka akan selalu ada kematian yang terjadi. Para pembawa kerondo mayit membawa sebuah keranda dengan di tutupi kain hitam dan berkeliling desa sampai ke tempat tujuan terakhirnya yaitu brang kulon.
"Brang kulon ?" Tanyaku
"Benar tujuan mereka adalah lahan kosong yang ada di brang kulon. Penduduk di sini menyebutnya sebagai palung mayit." Jawab Mas bambang
"Lalu Mas apakah dua puluh tahun yang lalu, para pembawa kerondo mayit ini berhasil menuju ke palung mayit ?" Tanya Topa penasaran
"Untung sebelum hal itu terjadi, mereka dapat di hentikan oleh Mbah Kliwon dengan melakukan ritual Sadapati." Kata Mas Bambang
"Lalu, Mas. Apakah kematian Widya kali ini ada sangkut pautnya dengan hal yang terjadi dua puluh tahun lalu ? Soalnya aku juga mendengar bahwa dua puluh tahun pernah terjadi kejadian seperti yang dialami oleh Widya hingga menyebabkan teror di desa ini. Kematian Mbah-" Bayu seperti lupa apa yang dia sampaikan
"Darmo." Celetuk Angga
"Nah iya, Mas. Mbah Darmo. Soalnya Mas Bewok pun mengatakan bahwa Kematian Mbah Darmo tidak wajar seperti yang dialami Widya." Tambah Bayu
Mas Bambang melihat ke arah Bayu dan Angga yang terlihat penasaran dengan jawaban Mas Bambang.
"Tidak etis rasanya kalau kita menyangkut kematian Widya dengan hal masa lalu." Jawab Mas Bambang
Bayu dan Angga pun terlihat menunduk mendengar jawaban Mas Bambang.
"Kematian Widya kali ini merupakan tindak kejahatan yang tidak bisa lagi di ampuni. Dan semua juga sudah di laporkan kepada pihak yang berwenang. Mungkin memang telah terjadi teror di masa lalu dan saya saksi hidup yang menyaksikan itu. Namun menyangkutkan kejahatan kali ini dengan masa lalu tidaklah sama, teror masa lalu tidaklah mungkin terjadi baik di masa sekarang maupun masa depan." Tegas Mas Bambang
Kami semua terdiam mendengar jawaban Mas Bambang. Awan hitam mulai memudar, cahaya matahari sore memuncul cahaya dan membuat warna langit menjadi jingga. Mas Bambang pun berpamitan pulang kepada kami, dan tak lupa membangunkan Mbah Carik yang sepertinya tertidur mendengar cerita Mas bambang. Kami mengantar mereka berdua hingga depan rumah. Mbah Carik pun berpesan kepada kami untuk tidak mengkhawatirkan hal yang telah terjadi di masa lalu. Kami menatap Mbah Carik dan Mas Bambang pulang. Langit sore yang semakin memerah seperti lautan darah diatas sana menjadi pemandangan yang tak ingin ku saksikan lagi.

