Desa Terlarang | Part 2

Kami berdelapan berhenti disebuah balai desa. Disana kami disambut oleh lurah desa tersebut. Para penduduk desa ini sering menyebut pak lurah dengan sebutan Mbah Carik. Mbah Carik menyambut kami dengan senyumnya yang hangat dan mempersilahkan kami untuk masuk kedalam balai desa. Aku melihat sekeliling, terlihat beberapa warga yang antusias dengan kedatangan kami mulai berbondong-bondong menuju balai desa. Topa dan Angga terlihat menurunkan beberapa barang yang ada di mobil. Aku,Bayu,dan Rijal mengikuti arahan Mbah Carik untuk masuk ke balai desa disusul Julia,Yuni,dan Laras. Disana ternyata kami sudah ditunggu oleh beberapa orang yang terlihat menunggu kedatangan kami. Kami dipersilahkan duduk dengan Mbah Carik untuk melepas lelah selama perjalanan, tak lama Topa dan Angga pun menyusul kami kedalam balai desa.

"Selamat datang di desa kami adik-adik mahasiswa dan mahasiswi sekalian." Ujar mbah carik saat kami sudah berkumpul. "Saya disini sebagai lurah sudah mengetahaui maksud dari kedatangan adik-adik sekalian. Semoga adik-adik disini bisa memberikan masukan dan manfaat bagi masyarakat di desa ini."

Kami pun mengangguk dan merasa bahagia karena disambut dengan baik disini.

"Baiklah adik-adik sekalian."

"Kita hidup bermasyarakat, karena adik-adik disini bisa dibilang orang baru. Mbah hanya mengingatkan pepatah lama,  𝐷𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑖𝑡 𝑑𝑖𝑝𝑖𝑗𝑎𝑘,𝑑𝑖 𝑠𝑖𝑡𝑢 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑖𝑡 𝑑𝑖𝑗𝑢𝑛𝑗𝑢𝑛𝑔." Tambah Mbah Carik.

"Maksud saya adalah bahwa disetiap tempat itu pasti punya aturan baik larangan ataupun pantangan. Begitu juga dengan desa ini."

Kami mendengar perkataan Mbah Carik dengan seksama. Jujur saja aku juga mengetahui bahwa ada beberapa daerah yang mempunyai aturan-aturannya sendiri. Namun entah mengapa aturan didesa ini menurutku sangat aneh dan tidak masuk akal.

"Jadi adik-adik mahasiswa sekalian, itu adalah aturan yang harus kalian patuhi selama didesa ini. Intinya saya ingatkan sekali lagi. Adik-adik mahasiswa boleh meng-survei semua tempat didesa ini, kecuali lahan kosong yang berada di 𝐵𝑟𝑎𝑛𝑔 𝐾𝑢𝑙𝑜𝑛. Lalu dilarang juga untuk keluar diatas jam 8 malam."

Kami semua menyanggupi permintaan Mbah Carik tentang aturan desa tersebut. Kamipun mengobrol dengan mbah carik dan beberapa warga yang berada di balai desa. Kami disuguhi berbagai macam hidangan dari hasil bumi yang ada di desa ini. Kamipun diperkenalkan oleh mbah carik orang penting didesa ini. Mereka disebut sebagai juru kunci. Walaupun kami tidak tahu apa itu juru kunci, tapi penduduk disana menyebut mereka para tetua desa. Kami diberitahu oleh mbah carik, bahwa desa ini terbagi menjadi empat 𝐵𝑟𝑎𝑛𝑔. Yaitu 𝐵𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑜𝑟,𝐵𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑖𝑑𝑢𝑙,𝐵𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑤𝑒𝑡𝑎𝑛 dan 𝐵𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑢𝑙𝑜𝑛. Masing-masing 𝐵𝑟𝑎𝑛𝑔 ini mempunyai satu juru kuncinya masing-masing. Kami sudah dikenalkan dengan juru kunci dari 𝐵𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑜𝑟 yaitu Mbah Sarwoto, dan dari 𝐵𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑤𝑒𝑡𝑎𝑛 yaitu Mbah Gani.
Selagi kami berbincang dengan penduduk dan Mbah Carik, terlihat dari kejauhan tiga orang pemuda dari desa ini datang menuju balai desa. Mereka adalah Mas Ariya, Mas Arif dan Mas Bewok. Kedatangan mereka ke balai desa untuk menemui kami dan Mbah Carik.

"Mbah tempatnya sudah kami bersihkan, bisa langsung ditempati." ujar salah satu pemuda kepada Mbah Carik.

"Oh, 𝑊𝑖𝑠 𝑟𝑎𝑚𝑝𝑢𝑛𝑔 toh Ariya ?"

"𝑆𝑎𝑚𝑝𝑢𝑛 Mbah."

Tiga pemuda yang berdiri dihadapan kami adalah pemuda dari desa ini yang akan membantu kegiatan kami selama disini.

"Kalau begitu adik-adik sekalian boleh pergi kerumah yang sudah dibersih oleh Ariya,Arif dan Bewok." kata Mbah Carik kepada kami.

Kamipun berpamitan kepada Mbah Carik. Mas Ariya yang berwajah kalem mempersilahkan kami untuk mengikuti mereka. Kami segera mengambil barang-barang kami dan mengikuti mereka.

"Ariya, kamu tunggu disini dulu." Cegah Mbah Carik . "Biar Arif dan Bewok yang mengantar mereka." Tambahnya.

Mas Ariya pun mematuhi permintaan Mbah Carik dan tetap berada di balai desa. Kami segera mengikuti mas Arif dan mas Bewok yang sudah berjalan duluan. Rumah yang akan kami tempati merupakan balai desa lama yang khas dengan bentuk 𝐽𝑜𝑔𝑙𝑜-nya. Kami segera masuk kedalam. Tempat yang lumayan luas dengan tiga kamar dan ruang tamu dengan dapur dan kamar mandi yang terpisah. Mas Arif dan mas Bewok pun berpamitan dengan kami untuk kembali ke balai desa menyusul mas Ariya yang masih berada disana. Rijal pun memutuskan untuk mengikuti mereka untuk berdiskusi tentang proker yang akan kami buat di desa kepada mbah Carik. Mas Arif dan Mas Bewok pun pergi bersama Rijal ditemani Laras dan Julia menuju ke balai desa. Aku membantu Yuni menaruh persedian bahan makanan kami yang sudah kami bawa kedapur.

"Yu, Topa sama Angga kemana ?" tanyaku kepada Bayu yang terlihat sedang duduk beristirahat diteras

"Gak tau aku Ya, mungkin mereka kebelakang lihat sungai dibawah." jawabnya

"Oalah." kataku sambil menghela napas

Aku segera menyusul Topa dan Angga yang terlihat sedang tersenyum licik melihat kearah sungai.

"Woi kalian ngapain." kataku kepada mereka berdua

"Woi sini sini Ya." jawab Topa

Aku segera menyusul mereka berdua disana.

"Aku bakal betah disini Ya." ucap Topa dengan tersenyum

"Weh kok iso Pa ?"

"Iso lah Ya, liat surga yang akan muncul dihadapan kita nanti."

"Sungai ?" tanyaku heran

" Ckckck Ya, kamu ini sudah dewasa masih saja polos, Angga jelasin." kata Topa

Aku menoleh ke Angga berharap menemukan jawaban dari teka teki temanku.

"Ya, coba kamu bayangkan saat dipagi hari dan sore hari disini, kita menatap aliran air yang mengalir dengan pemandangan gelak tawa bidadari bermain air."

"Eh." tegunku

"Iya." jawab Topa sambil tersenyum.

Aku mulai mengerti maksud mereka berdua.

"OKE ! kita bakal bangun markas rahasia kita disini. Setuju !" Ujar Topa sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi

"Setuju !" jawab Angga

"WOI ! jangan teriak-teriak." Kata Bayu dari kejauhan

"Opo sih Mbul." kata Topa

"Tuh dipanggil Yuni, ayok masuk dulu." tambah Bayu

"Dek Yuni manggil aku, ayok ayok cepet." Topa bergegas menuju kerumah diikuti aku dan Angga dibelakangnya.

"Mas mau minum apa, Yuni sudah masak air di 𝑃𝑎𝑤𝑜𝑛."

"Kopi aja dek." Jawabku diikuti anggukan Topa,Bayu dan Angga.

"Ya sudah kubuatin dulu kopinya mas."

"Ekh dek Yuni." cegah Topa

"Iyah mas ?"

"Kopi punya mas jangan manis-manis ya, soalnya lihat kamu aja sudah manis, takut diabetes." ucap Topa sambil tersenyum

"Oalah mas Topa gombal terus." jawab Yuni dengan tertawa sambil berjalan menuju ke dapur

Kami semua tertawa mendengar rayuan Topa. Memang candaan seperti ini dapat membuat suasana menjadi lebih menyenangkan. Topa pergi menuju ke kamar untuk membawa barang rahasia yang sudah kami beli di kota sebelum kesini. 10 pack rokok akan menjadi pengusir rasa lelah yang akan kami lalui.

"Tapi yo, desa ini masih asri banget, tempatnya tepat ditengah-tengah hutan jati." kata Bayu membuka percakapan

"Iya Yu, akses ke desa ini dari kota pun agak susah." jawab Angga

"Loh bukannya kau tidur dijalan Ga ?" tanyaku

"Iyah tapi sempet melek."

"Listrik pun belum masuk, mungkin kita butuh mesin 𝐺𝑒𝑛𝑠𝑒𝑡 buat menunjang tugas-tugas kita."

"Iya sih, mbah Carik juga bilang kalau akses listrik cuma ada dirumah mbah Carik dan para juru kuncinya." tambahnya

"Aku masih bingung." kataku

"Bingung kenapa Ya ?" jawab Topa

"Tentang juru kunci."

Kami semua terdiam sejenak hingga angin semilir menghantam wajah kami dengan lembut.

"Mungkin bisa dibilang mereka dukun di desa ini mungkin." tambah Bayu sambil mengambil rokok dan menghidupkannya

"Dukun ?"

"Iya Ya, dukun."

"Desa ini bisa dibilang jauh dari peradaban, pasti hal-hal berbau mistis masih kental disini." ujar Bayu

"Bentar-bentar Yu, kau masih percaya hal kayak gitu ?" kataku

"Percaya gak percaya Ya, hal gaib kayak gitu pasti ada." Jawabnya

"Jadi kau percaya adanya hantu begitu ?"

"Percaya." Jawabnya tegas

"Emang kau sendiri pernah liat sendiri gimana bentuk hantu ?"

"Ya enggak sih, tapi nenek ku pernah cerita kalau dia pernah dilihatin kuntilanak dirumahnya dulu."

Aku menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Bayu, di era modern seperti aku sendiri tidak terlalu mempercayai hal mistis dan semacamnya.

Tak berselang lama kami mengobrol terlihat Rijal, Julia dan Laras pulang dari balai desa bersama seseorang. Beliau adalah mas Bambang. Rijal menjelaskan kepada kami bahwa Mas Bambang merupakan salah satu juru kunci di desa ini.

"Mohon maaf mas." Kataku saat mas Bambang duduk bersama kami

"Oh 𝑁𝑔𝑔𝑒ℎ mas, ada apa ?" jawab mas Bambang dengan logat jawa halusnya

"Sebenarnya yang dimaksud dengan juru kunci itu apa mas ?" tanyaku penasaran

Kami semua melihat kearah mas Bambang berharap sedikit mendapat informasi.

Mas Bambang berbalik menatap kami. Sebuah tatapan tajam namun penuh wibawa membuat kami merasa agak takut apabila beliau tersinggung.

"Sebenarnya tidak ada maksud apa-apa mas." jawabnya

"Juru kunci ini sebutan penduduk disini, nah sebutan ini sebenarnya sudah diwariskan secara turun temurun untuk beberapa keluarga yang tinggal didesa ini." tambahnya

Kami pun mengangguk walaupun jawaban mas Bambang sepertinya masih samar di pikiran kami.

"Yah walupun sebutan kami juru kunci, bukan berarti saya ini tukang kunci juga yo mas." jawabnya sambil sedikit berbisik

Kami tersenyum mendengar jawaban mas Bambang, dan beliau pun demikian. Hingga akhirnya mas Bambang pun pamit untuk kembali pulang kerumahnya.

"Loh Wok, terpal tebal itu mau dibawa kemana ?" tanya mas Bambang saat mau beranjak pulang dan berpas-pasan dengan mas Bewok di depan rumah yang kami tinggali.

"Ini saya tadi bawa terpal buat nutup tempat untuk mandi di tepi sungai mas, permintaannya dari mbak-mbak kui mau." jawabnya sambil menunjuk kearah Julia

"Ekh lo." Topa terkejut mendengar hal itu

Julia dan Laras tertawa kecil, karena sepertinya mereka tahu apa yang ada didalam otak si Topa.

"Mas, ini kopinya." Bawa semerbak wangi kopi yang terseduh air panas begitu harum menusuk hidung kami.

"Ekh iya dek Yuni, duh jadi ngerepotin." jawab Topa yang sepertinya sudah tidak merasa kecewa lagi karena impiannya digagalkan oleh Julia

"Ekh mas gak mampir ngopi dulu ?" Ucap Yuni yang melihat mas Bambang dan mas Bewok didepan rumah kami.

"Akh, wis ngopi mau mbak." Jawab mas Bambang sambil menepuk-nepuk perutnya, diiringin dengan anggukan mas Bewok.

Mas bambang pun berpamitan kepada kami dan mas Bewok, dan melanjutkan perjalanan pulangnya. Mas Bewok pun segera menuju kebawah untuk membuat bilik kecil yang akan digunakan mandi oleh kami.

Topa terlihat kecut saat menyeruput kopi buatan Yuni. Ekspresi wajahnya mengkerut saat meminumnya.

"Dek Yuni." kata Topa

"Opo mas." Jawab Yuni sambil sedikit tertawa

"Dek tadi kita udah beli gula toh ?"

"Iya mas, kenapa mas kurang manis ya ?"

"Katanya cukup liat adek aja udah manis, kan mas Topa sendiri yang bilang." jawab Yuni

"Iya dek manis kok manis, bangett malah." jawab Topa

Kami semua tertawa melihat kelakuannya. Sebuah cerita yang indah untuk diceritakan ulang dihari tua.

**

Malam telah tiba di desa ini. Seusai kami memakan makan malam kami, kami berkumpul diruang tengah ditemani oleh lampu 𝑈𝑏𝑙𝑖𝑘 yang menjadi satu-satu penerangan untuk kami. Rijal membuka percakapan bahwa besok dia akan kembali ke kota untuk membeli mesin 𝐺𝑒𝑛𝑠𝑒𝑡. Kamipun menyetujuinya karena memang itu yang kami butuhkan saat ini. Satu persatu dari kamipun segera beranjak ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Aku mendapatkan kamar bagian depan bersama Bayu dan Topa, sedangkan Rijal dan Angga dikamar tengah dan Julia,Laras serta Yuni akan tidur dikamar belakang bersebelahan dengan dapur. Suasana malam yang tenang, suara jangkrik dan binatang malam menjadi musik pengantar tidur kami. Sebuah malam yang damai sebelum tragedi menakutkan.

**

Derap langkah kaki menyusuri tepian sungai di 𝐵𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑜𝑟. Sebuah gubuk kecil yang sudah lama dibangun disana dimasuki oleh seorang pemuda dengan membawa sesajen dan kepala kambing yang terpenggal diletakkan di bawah batu berbentuk gajah.