Desa Terlarang | Part 3
Brak brak brak .....
"Alif keluar kau anak biad*b !!"
Suara sumpah serapah dan caci maki membuat pagi hari yang seharusnya tenang menjadi penuh keributan. Sesuatu telah terjadi di brang kulon. Para penduduk yang tinggal di brang kulon beramai-ramai mempersekusi salah seorang penduduk disana. Terlihat seorang wanita tua keluar dari dalam rumah berdinding ala kadarnya. Sosok wanita itu menatap sekumpulan warga yang seperti hewan yang siap menerkam mangsanya. Tatapan diam wanita itu membuat para warga yang semula bagai hewan yang siap memangsa, kini berbalik seperti mereka yang akan menjadi mangsa.
"Ada apa kalian teriak-teriak begini ?" Tanya wanita tua tersebut
"Kkami hanya menginginkan alif mbah." jawab seorang warga dengan agak terbata-bata
"Kenapa dengan alif ? Apa ada yang salah dengan dia. Dia anak yang rajin, pagi dia sudah berkebun, pulang untuk makan siang, dan sore kembali mengurus kebun dan kemudian pulang beristirahat." jawab wanita tersebut yang biasa disebut Mbah Sarkem oleh penduduk disini
"Tapi Mbah, 3 minggu ini beberapa warga melihat si Alif memasuki tempat terlarang." jawab penduduk disana diiringi anggukan oleh warga
Mbah Sarkem sedikit terdiam, bagaimanapun masalah ini tidaklah segampang yang dikira. Aturan adat yang sudah ada sejak dahulu, apalagi sejak tragedi berdarah 20 tahun silam membuat Mbah Sarkem tidak dapat berbuat banyak.
"Ya sudah, masalah ini biar saya sendiri yang akan membawa Alif menemui Mbah Carik siang nanti."
"Sekarang sebaiknya kalian beraktifitas seperti biasa." ucap Mbah Sarkem
Ucapan Mbah Sarkem segera dipatuhi oleh penduduk desa di brang kulon. Mereka pun membubarkan diri. Mbah Sarkem berdiri diam menatap kelangit. Awan hitam dari timur mulai menyelimuti langit di desa.
**
Aku terbangun setelah mendengar suara bercengkrama teman-temanku diluar. Aku melihat jam ditanganku.
"Jam delapan." kata ku sambil menyipitkan mata
Aku pergi keluar dari kamar, dan melihat Topa dan Bayu terlihat sedang menikmati kopi diteras.
"Baru bangun, Ya ?" ucap Topa saat melihatku
"Iyah nyenyak banget aku tidur. Enak banget disini." kataku
"Sana kebawah mandi dulu biar seger." tambah Topa
Aku mengangguk dan mengambil peralatan mandi dikamar, aku munuju ke bawah, terlihat di dapur Yuni sedang memasak air di pawon.
"Baru bangun Mas ?"
"Iyah dek, ngantuk banget soalnya jadi agak molor."
"Oh iya, Mas mau minum apa nanti, Yuni buatin sekalian."
"Hmm teh aja dek."
"Oke Mas."
"Yaudah mas mandi dulu ya." Kataku sambil melangkah menuju sungai yang ada dibawah
"Oh iya dek." Aku menghentikan langkahku
"Iya kenapa Mas ?" jawab Yuni
"Aku di depan hanya melihat Bayu ama Topa, yang lain pada kemana ?" tanyaku
"Rijal dan Angga kerumah Mbah Carik mas, kalau Julia sama Laras bilangnya pengen keliling desa."
"Hmm, ada urusan apa sepagi ini kerumah Mbah Carik ?" Tanyaku lagi
"Mereka bilang kesana untuk mengambil mobil Rijal."
Aku pun mengangguk dan melanjutkan perjalanku untuk mandi.
Cuaca yang sedikit mendung tak mengurangi rasa segar di badan setelah mandi. Aku segera menghabiskan sarapan yang sudah dibuatkan Yuni di dapur dan menuju ke teras duduk bersama Topa dan Bayu.
"Serius banget ngobrolnya." kataku kepada mereka berdua sambil menghidupkan rokok
"Emang kau gak dengar, Ya ?" jawab Bayu serius
"Dengar apa ?" tanyaku heran
"Nih anak mah kalau tidur udah kayak putri tidur." tambah Topa
"Emang ono opo sih ?" tanyaku lagi kepada mereka berdua
"Tadi malam aku denger ada suara cewek nangis di belakang." kata Bayu disambut anggukan Topa
"Ngaco kamu Yu." bantahku
"Lah kok ngaco, emang bener kayak gitu kejadiannya. Bahkan pas aku bangunin Topa, dia juga dengar." Jawab Bayu
"Emang benar, Ya. Aku juga dengar wong suaranya agak kenceng." tambah Topa
"Mas juga dengar suara orang nangis tadi malam ?" Ucap Yuni yang datang dari dalam
"Loh sampean juga dengar Dek ?" Jawab Topa
"Nggeh mas." Jawabnya sambil ikut duduk di teras
"Nah kan, Ya. Wong Yuni aja denger kok." Jawab Bayu
Aku menghisap rokokku dalam-dalam dan menghembuskannya ke udara. Sejujurnya aku tidak begitu mempercayai perkataan mereka. Bisa saja mereka sudah bersekongkol untuk mengelabuiku. Awan hitam mulai menutupi sedikit demi sedikit langit di desa ini. Terlihat dari kejauhan Julia dan Laras pulang dari arah brang lor.
"Gimana jalan-jalannya dek ?" tanya Topa pada mereka berdua
"Wah asyik banget Mas, sawahnya hijau-hijau." Jawab Laras antusias
"Wah nyesal aku gak ikut tadi." Ucap Topa
"Yee, salah Mas sendiri diajak ogah-ogahan."
"Males dek." jawab Topa sambil tertawa kecil
"Rijal dengan Angga belum pulang juga ?" Tanya Julia
"Mungkin mereka langsung ke kota Dek." Jawab Bayu
"Oh, yaudah kalau gitu aku mau masuk dulu. Mau nulis proker apa aja yang mau dikerjain besok mas." Kata Julia
"Yaudah aku juga mau kedalam." tambah Laras
"Ikut." Kata Yuni mengikuti mereka berdua kedalam.
Guyuran rintik hujan mulai turun dari awan gelap yang dilangit. Hujan seperti menghentikan semua aktivitas yang dilakukan penduduk desa disini. Hawa dingin mulai menyelimuti badan namun tidak dengan suasana di balai desa. Terlihat semua juru kunci berkumpul di balai desa bersama dengan Mbah Carik dan beberapa warga.
"Hal seperti ini tidak bisa terus dibiarkan." Kata mbah Sarwoto penuh tekanan
Semua mata menatap Mbah Sarwoto yang terlihat sedikit emosi
"Semua tentu ada alasannya Woto." Jawab Mbah Sarkem
"Alasan seperti apa Mbah Sarkem. Sudah jelas-jelas dia melanggar peraturan yang sudah dibuat sejak 20 tahun silam. Dia harus dihukum !" Kata Mbah Sarwoto dengan nada agak tinggi
"Sabar Mbah Sarwoto." Ucap Mas Bambang
"Kita harus mendengar dulu alasan dari Mas Alif kenapa dia pergi ke tempat itu, kita tidak bisa menghakiminya secara sepihak."
"Hei Bambang !" Kata Mbah Sarwoto sambil menunjuk kearah Mas Bambang
"Semua tentu sudah tahu alasannya, dan tugas kita sebagai juru kunci adalah untuk menghentikan kejadian itu terulang kembali."
"Kau ini masih muda, bahkan kau mewarisi juru kunci karena ada darah keturunan Mbah Kliwon dibadanmu. Kau masih belum mengerti apa-apa dan sebaiknya jaga bicaramu !" Kata Mbah Sarwoto dengan penuh emosi
"SUDAH HENTIKAN !" Suara tegas Mbah Carik menghentikan sedikit perdebatan antara Mbah Sarwoto dan Mas Bambang
Mbah Carik menatap kearah para juru kunci. Setelah agak tenang tatapan Mbah Carik, juru kunci, dan warga yang berkumpul di balai desa terfokus pada seorang pemuda yang sedari tadi duduk ditengah-tengah balai desa.
"Alif."
"Apa benar beberapa minggu ini kamu sering masuk ke palung mayit ?" Tanya Mbah Carik
"Benar." Jawab pemuda bernama Alif ini
Sontak jawaban dari Alif membuat warga yang berkumpul saling bergunjing dan menimbulkan kegaduhan. Mbah Carik lalu berusaha menenangkan warga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Alif, bukankah kau sudah mengetahui aturan yang ada di desa ini." Kata Mbah Carik
Alif hanya terdiam mendengarnya. Terdengar suara sumpah serapah dan caci maki dari para penduduk yang terlihat tersulut emosi dengan kelakuan Alif kali ini.
"Apa perlu saya ulang lagi, bahwa siapapun tanpa terkecuali penduduk di desa ini dilarang untuk pergi ke palung mayit." Tambah Mbah Carik
"TIDAK ADA ATURAN SEPERTI ITU ! ITU HANYA DIBUAT OLEH SI KLIWON SIALAN ITU !!" jawab Alif dengan marah
"HEI KAU ANAK IBLIS JAGA UCAPANMU !" Kata Mbah Sarwoto sambil berdiri dari tempat duduknya
Suasana menjadi lebih tegang sampai-sampai Mbah Carik ikut berdiri dari tempat duduknya.
"AKU KESANA HANYA UNTUK." Alif tak melanjutkan bicaranya dan lalu pergi dari balai desa
"KURANG AJAR KAU ALIF, KALAU SAJA KAU TIDAK DILINDUNGI OLEH MBAH SARKEM SUDAH HABIS KAU KUBANTAI SEPERTI."
"JAGA UCAPANMU WOTO !" Teriak Mbah Sarkem menghentikan pembicaraan Mbah Woto. Mbah Sarwoto langsung terdiam dan duduk kembali ketempat duduknya.
"Sebaiknya masalah ini kita serahkan kepada Mbah Sarkem yang notabene sebagai juru kunci di brang kulon." Kata Mbah Gani dengan suara berwibawa
Semua yang berada di balai desa terdiam mendengar ucapan Mbah Gani, Mbah carik mulai membubarkan warga agar pulang kerumahnya masing-masing. Terlihat dari kejauhan Bewok setengah berlari menuju ke balai desa.
"Mbah Carik Mbah." Ucap Bewok saat di balai desa
"Ada apa Wok ?" Tanya Mbah Carik
"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan Mbah." Jawab Bewok
Bewok mendekati Mbah Carik dan berbisik kepadanya. Mbah Carik terkejut mendengar apa yang disampaikan oleh Bewok. Mbah Carik lalu memanggil Mbah Sarwoto dan membicarakan apa yang Bewok sampaikan. Tanpa banyak bicara Mbah Sarwoto segera pergi bersama Bewok ketempat yang disampaikan. Hujan sedikit demi sedikit mulai berhenti, namun teror yang sebenarnya baru akan dimulai.
**
Malam ini kami berenam makan malam dengan sayuran hasil kebun yang diberikan oleh penduduk di sini. Malam yang tenang dengan penerangan lampu ublik yang menjadi satu-satunya sumber cahaya untuk kami. Kami duduk diruang tengah menghabiskan malam dengan saling membicarakan proker kelompok maupun individu untuk tugas kami. Kami saling mengobrol dan bercanda. Sebuah malam yang tenang sebelum teror mengerikan yang akan kami alami.
**
Kain putih lusuh berwarna merah darah yang membawa keranda mulai berjalan sedikit demi sedikit dari brang lor. Para pembawa kerondo mayit mulai menampakan wujudnya. Sebuah tragedi yang sudah terkubur mulai bangkit kembali.

