Desa Terlarang | Part 5

 


 Hampir semalaman aku tidak bisa memejamkan mataku walaupun untuk sekejap. Setiap kali aku mencoba untuk tidur, ingatan mengerikan itu tetap saja terbayang. Pagi ini kami berenam berada di salah satu rumah juru kunci yaitu Mbah Gani. Cahaya matahari pagi masuk lewat celah-celah di rumah Mbah Gani, yang membuat dinginnya hawa malam berangsur-angsur sedikit menjadi lebih hangat. Kami duduk di ruang tamu ditemani dengan segelas teh dan ubi rebus yang sudah di siapkan oleh istri Mbah Gani.

"Monggo diminun teh nya jangan dilihatin terus." Ucap Mbah Gani

"Ekh iya, Mbah." Jawab Topa yang sedikit tertegun

"Sudah tidak apa-apa, masalah ini biar nanti Mbah yang selesaikan. Adik-adik semua tidak perlu khawatir." Kata Mbah Gani

Kami mengangguk dan meminum teh yang sudah di siapkan di depan kami. Mbah Gani tersenyum dengan keriput yang nampak jelas di wajahnya yang tua. Tak lama Mbah Gani pun berpamitan kepada kami untuk pergi ke sawahnya, beliau pun berpesan bahwa kami di perbolehkan untuk tinggal lebih lama di rumah Mbah Gani sebelum pergi. Tak lama setelah itu, kami berenam juga berpamitan untuk kembali kerumah tempat tinggal kami sementara di desa ini. Letih dan rasa kantuk terpancar dari wajah kami semua. Aku memandang rumah berbentuk Joglo ini, tempat yang membuatku ketakutan hingga tak bisa memejamkan mata semalaman.

Kreeettttt~~

Suara decit pintu yang terbuka memperlihat isi dalan rumah yang berantakan akibat kegaduhan kami semalam. Topa masuk lebih dahulu di susul oleh Bayu dan Julia. Aku, Laras dan Yuni menyusul dari belakang.
Kami berenam diam sejenak melihat kursi dan meja yang tidak berada pada tempatnya lagi, serta lampu ublik yang jatuh terlempar di sebelahnya. Julia memungut lampu ublik dibantu Bayu yang menyusun kembali letak kursi dan meja.

"Untung lantainya tidak terbakar." Kata Julia sambil mengusap bekas lampu yang jatuh di lantai beralaskan papan

"Kalau tiap malam kayak gini tobat aku, Ya." Ucap Topa tak habis pikir

"Sama, Pa. Kepala ku sudah pusing." Jawabku

"Yah, mau bagaimana lagi. Kenyataannya begini, kan sudah ku bilang hal-hal mistis seperti itu masih kental di daerah ini." Jawab Bayu menatapku

"Lah terus ?!" Jawabku dengan balik menatap Bayu

"Ya gak ada terusannya."

"Maksudmu ki apa, Yu !"

"Udahlah ! Jangan berantem kenapa." Teriak Laras yang sepertinya mulai risih dengan perdebatan kami

Laras mendorongku dan berjalan menuju kamarnya, di susul Yuni yang terlihat masih terdiam ketakutan. Julia segera menyusul mereka diikuti Topa yang menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan kami dan pergi ke dapur. Hanya Aku dan Bayu yang tersisa di ruang tengah. Bayu tanpa bicara juga meninggalkanku menuju kamar.

**

Langit biru yang membentang luas siang ini berbanding terbalik dengan hari kemarin. Arif sedang menikmati makan siangnya di kebun jagung miliknya. Dia melihat kebunnya yang sedikit menjorok kebawah satu-satunya tempat yang belum di bersihkan.

"Sendirian aja, Mas Arif ?" Tanya seorang perempuan berparas ayu dengan memakai caping di kepalanya.

"Ekh, Dek Lastri." Jawab Arif yang sedikit tersedak makanannya sendiri

Lastri tertawa kecil melihat tingkah laku Arif yang terkejut dan salah tingkah

"Pelan-pelan aja makannya Mas."

Arif segera meneguk minuman yang berada di sampingnya.

"Mau kemana dek ? Tumben mainnya sampai sini ?" Tanya Arif sambil meletakan botol minuman di sampingnya.

"Gak kemana-mana Mas, tadi Adek barusan dari rumah Mbah Sarkem di suruh bapak antar ubi." Jawabnya

"Oalah, terus kok sampai sini ?" Tanya Arif lagi

"Tadi kesini mau nyariin Mas Alif, tapi gak nemu-nemu." Katanya kecewa

"Ada masalah apa nyariin si Alif dek ?"

"Gak ada apa-apa Mas, cuma pengen ketemu aja."

Arif mengangguk dengan rasa sedikit kecewa di hatinya.

**

Suara deru mobil terdengar di depan rumah kami. Rijal dan Angga yang sebelumnya ke kota sudah kembali membawa mesin genset yang terlihat di bak belakang mobilnya.

"Cah bantuin turunin lo berat iki." Pinta Angga yang terlihat kesusahan memindahkan genset

Aku dan Topa di bantu Rijal yang turun dari mobil membantu Angga mengangkat mesin genset dari atas mobil.

"Lah enteng." Kata Topa yang mengangkat mesin genset sendirian ke dalam

Angga sedikit tak menyangka akan hal itu.

"Makanya kalau makan yang banyak, Ngga." Kata Rijal yang masuk kedalam rumah

Aku menepuk-nepuk pundak Bayu memberinya sedikit semangat yang sedang melirik ke arah otot tangannya yang tidak begitu besar. Aku segera mengajaknya kedalam dan menjanjikan segelas kopi agar dia tidak merasa begitu kecewa.

"Yang lain pada kemana, Ya?" Tanya Rijal yang sedang duduk sambil menyalakan rokok

"Gak tau aku, soalnya aku juga bangun tidur tadi." Jawabku sambil menyerobot minuman kaleng yang ada di hadapannya

"Loh, Ya. Punyaku kui." Berkata sambil melihatku yang meneguk minumannya.

"Nyicip tok pelit amat." Kataku sambil menaruh kaleng kosong

"Awakmu nyicip opo haus, Ya." Sembari membalik kaleng yang kosong

"Ekh, Pa." Ucap Rijal yang melihat Topa dari dapur

"Kemana yang lain ?"

"Hmm, si Bayu, Julia, ama Laras katanya tadi ke sawah."

"Oh, lah si Yuni?"

"Ddia gak enak badan, jadi lagi istirahat dikamar." Kataku

"Lah Yuni demam ?"

"Enggak kok, paling juga kecapekan tok, Jal." Tambah Topa

Aku dan Topa saling melirik, mencoba untuk tetap tutup mulut dengan kejadian tadi malam.

"Ya, kopiku ndi ?" Yang terlihat masuk setelah membersihkan badan di sungai tempat kami mandi

"Lali aku, Ngga." Kataku sambil tertawa karena lupa akan janjiku tadi

"Oalah, jadi warga biasa aja dirimu lali, Ya. Emang gak cocok sampean jadi wakil rakyat." Selorohnya sambil masuk ke dalam kamar

**

Julia dan Laras terlihat bersemangat mengikuti kegiatan penduduk di sawah. Sedangkan Bayu terlihat asyik mengobrol dengan salah seorang penduduk di dekat sawah.

"Jadi di sini anak-anak kebanyakan yang tidak sekolah toh Mas ?" Tanya Bayu kepada Bewok yang sedang beristirahat

"Iya Mas, soalnya SD disini adanya di desa sambak. Itupun setengah jam perjalanan kalau jalan kaki." Jawabnya

"Lah terus anak-anak disini belajarnya piye mas ?"

"Biasanya kalau sore habis sholat Ashar, anak-anak belajarnya pada dirumah Mas Bambang."

"Oh, jadi Mas Bambang guru juga Mas."

"Iya betul Mas, dia guru silat."

Bayu terkejut mendengar jawaban Mas Bewok

Mbah Gani terlihat berjalan menghampiri kami di gubuk, rasa lelah yang terlihat dari wajahnya nampak dengan jelas melalui dengusan napas yang tidak beraturan.

"Iki tinggal yang sebelah kiri Wok, nanti kamu benerin." Kata Mbah Gani sambil mengipas caping ke tubuhnya

"Nggeh Mbah, mengko tak selesaikan mawon gawean ne." Jawab Bewok

"Piye le konco mu ?" Tanya Mbah Gani kepada Bayu

"Alhamdulilah Mbah, wis podo waras." Sambil menunjuk kearah Julia dan Laras yang sedang tertawa gembira

Mbah Gani manggut-manggut mendengarnya.

"Mohon maaf ki Mbah." Kata Bayu melihat ke arah Mbah Gani

"Gubuk yang disana itu tempat apa Mbah, soalnya tadi saya melihat Mbah Sarwoto masuk kedalam sana dengan membawa tampah ada bunganya. Mirip sesajen." Tambah Bayu dengan menunjuk kearah gubuk yang berada di seberang sungai

Mbah Gani berhenti mengkipasi tubuhnya, dan meletakkan caping yang dipegangnya. Tatapannya nampak berubah menjadi tajam setelah mendengar pertanyaan Bayu.

"Oh disana." Katanya sambil melihat kearah gubuk itu

Bayu mengangguk membenarkan perkataan Mbah Gani

"Hmm, disana itu salah tempat yang di keramatkan juga oleh penduduk sini, Namanya Watu Gajah." Ucap Mbah Gani

"Watu Gajah ?" Kata Bayu bingung

"Iya Mas, disana itu ada batu yang bentuknya seperti gajah." Tambah Bewok

"Yah sebaiknya adek-adek tidak masuk ke sana, karena bisa dibilang tempat itu keramat."

Bayu segera mengerti maksud dari Mbah Gani. Dari kejauhan Julia dan Laras melambaikan tangannya memanggil kami bertiga ke bawah pohon belimbing untuk makan siang bersama.

**

Malam ini kami sedikit tenang dengan cahaya lampu di rumah ini. Yuni meminta lampu yang paling terang untuk di letakan di kamarnya, keadaanya pun sedikit membaik dengan senyum yang nampak di wajahnya. Aku duduk di samping Bayu setelah berbaikan akibat kesalah pahaman tadi pagi.

"Untuk proker disini, sebaiknya kita membuat kelompok belajar." Usul Laras

"Benar, banyak dari penduduk disini masih buta huruf. Anak-anak pun kurang mendapatkan pendidikan karena sekolah yang lumayan jauh dari desa ini." Tambah Julia

"Aku juga punya ide untuk mengembangkan palawija di kala musim pancaroba di desa ini." Usulku

Akhirnya kami sepakat dengan beberapa ide kami tentang kegiatan kami di desa ini.

"Assalammualaikum." Ucap seseorang dari luar

"Waalaikumsallam." Sahut kami

Angga segera membuka pintu dan terlihat Mbah Gani beserta Bewok dan Ariya.

"Monggo masuk Mbah, Mas." Kataku menyambut kedatangan mereka

Mbah Gani, Ariya dan Bewok pun masuk kerumah kami. Kami segera merapikan beberapa buku dan laptop yang berserakan di atas meja.

"Mbah mau minum apa?" Tawar Yuni kepada Mbah Gani

"Teh manis saja kalau ada." Jawab Mbah Gani

Yuni mengangguk

"Kalau Masnya mau minum apa ?"

"Saya ikut aja Mbak, apa saja kami minum kok." Jawab Bewok sambil menyikut Ariya

Yuni tersenyum dan segera pergi ke dapur di ikuti Laras dan Julia.

Mbah Gani terlihat melihat sekeliling rumah kami sambil mengelus jenggotnya. Kami semua melihat Mbah Gani tanpa bersuara.

"Hmm, sepertinya mereka ingin jahil kepada kalian." Kata Mbah Gani

"Mmereka ? Mereka siapa Mbah ?" Tanya Rijal heran

Mbah Gani menatap Rijal yang sepertinya tidak mengetahui apa-apa. Beliau tersenyum dan mengatakan tidak ada yang perlu di khawatirkan.

Yuni datang membawa minuman untuk Mbah Gani berserta Bewok dan Ariya. Kami mulai mengobrol dan Mbah Gani menanyakan keadaan Yuni. Yuni dengan tersenyum mengatakan sudah baik-baik saja.
Obrolan kami cukup lama hingga waktu kala itu menunjukkan pukul 9 malam. Mbah Gani pun berpamitan untuk pulang begitu juga Ariya dan Bewok. Kami semua mengantarkan kepulangan Mbah Gani setelah memberikan kami garam yang sudah di mantrai dan menyuruh kami untuk menaburkannya di sekeliling rumah. Kami berterima kasih kepada Mbah Gani dan segera menaburkan garam yang beliau berikan sekeliling rumah. Angga dan Rijal terlihat bingung dengan apa yang kami lakukan. Sebenarnya apa yang terjadi kemarin malam ?


**

Malam yang tenang dengan cahaya bulan yang menampakan sinarnya dengan redup. Pemuda dengan membawa sesajen di tangannya mulai membakar kemenyan di watu gajah.