Desa Terlarang | Part 6
"Memang tadi malam kenapa toh?" Tanya Rijal yang penasaran
Kami berenam saling menatap satu sama lain. Sejujurnya kami masih takut dengan kejadian yang menimpa kami.
"Udah besok ku ceritain, sekarang ayok tidur wis wengi." Ajakku
"Yo tapi aku penasaran lo, Ya." Ucap Rijal yang agak memaksa
"Udah besok aja, Jal." Ujarku
"Ekh, Mas Rijal."
"Iyo, Yun."
"Lampunya hidup sampai pagi kan Mas ?"
"Iya dek, lagian Mas tadi sekalian beli stok minyak buat sepuluh hari kedepan kok, gak usah khawatir."
Yuni agak lega mendengar jawaban Rijal dan pergi di susul Julia menuju kamarnya menyusul Laras yang sudah tidur duluan.
"Yowis ayok budal turu." Ajak Topa
Aku segera mengikuti Topa untuk beristirahat di kamar.
Malam ini semua terlihat lebih menenangkan daripada malam sebelumnya. Aku memandang langit-langit yang mendapat sedikit cahaya dari ruang tengah. Setidaknya ini membuat sedikit lebih baik.
"Belum tidur, Ya?" Tanya Topa yang tidur di sebelahku
"Belum, Pa. Belum bisa tidur." Jawabku
"Sama."
"Tapi, Ya." Tambah Topa yang langsung duduk ditempat tidur
Aku pun ikut duduk di sebelahnya
"Sejak datang ke desa ini kurasa ada yang aneh." Ucap Topa
"Iyo sih, Pa. Aku juga ngerasa ada yang aneh. pantangan-pantangan disini terasa ambigu sih."
"Aku sendiri malah penasaran dengan tempat terlarang itu, Ya."
Aku melirik ke Topa dan kembali menatap ke arah dinding papan yang renggang. Suara binatang malam bersahut-sahutan seakan bernyanyi. Aku menghidupkan sebatang rokok dan menghisapnya dalam.
"Ya, sampean gak mandi po ?" Tanya Topa sambil mendengus-dengus ke arah badanku
"Matamu lo, Pa. lah sampean delok sendiri tadi aku mandi." Jawabku agak kesal
"Tapi bau amis lo, Ya."
Aku mencoba mencium bau yang di bicarakan Topa.
"Iya, Pa. Anyir." Aku menutup hidung dengan satu telapak tanganku
"Oalah bang*at !" Teriak Topa kesal
"Wis lah turu, daripada di lihatin lagi, amit-amit." Kata Topa yang langsung menutupi seluruh badannya dengan selimut
Aku segera mematikan rokok ku dan ikut masuk ke dalam selimut dan mencoba untuk segera memejamkan mata.
Sosok itu melihat dua orang pemuda yang terlihat ketakutan dengan keberadaannya. Pijar mata yang merah serta darah yang keluar dari kelopak matanya mengalir ke raut mukanya yang rusak sebagian. Sosok itu berseringai dibalik dinding papan itu.
**
Mbah Sarwoto terlihat berjalan tergopoh-gopoh ke salah satu rumah warga.
"Di sini mbah." Kata orang tersebut menunjuk salah satu kamar di rumahnya
Mbah Sarwoto segera membuka pintu kamar tersebut. Terlihat sesosok gadis yang tengah berdiri di pojok kamarnya dengan kepala yang menunduk.
"Nduk.." Ucap Mbah Sarwoto pelan sambil menggapai pundak dari gadis itu
"Aaarrrrghhhh arrrgghhhhh..." Erangan gadis tersebut terdengar saat Mbah Sarwoto menyentuh pundaknya
Gadis yang awalnya hanya diam kini memberontak sambil meludahi wajah Mbah Sarwoto. Pupil hitam matanya tak lagi nampak, hanya terlihat warna putih yang ada di kedua bola matanya. Tak tinggal diam, Mbah Sarwoto segera berusaha menghentikan pergerakan gadis itu. Tekanan yang di berikan Mbah Sarwoto membuat gadis itu semakin mengamuk dan beringas dengan mencakar lantai papan hingga membuat kuku di jari nya lepas. Ibu dari gadis tersebut tak kuasa menahan tangis saat melihat anak gadisnya berubah menjadi seperti binatang liar itu.
"Cekeli tangan ne !" Perintah Mbah Sarwoto kepada ayah dari gadis tersebut
Ayah dari gadis tersebut segera mematuhi perintah Mbah Sarwoto. Dengan sekuat tenaga dia memegang tangan anaknya agar tidak terluka lagi. Gadis yang awalnya lemah lembut ini menjadi sangat bertenaga, hingga ayahnya sendiri menahan sampai keluar keringat dari kepalanya. Mbah Sarwoto lalu memegang dahi gadis tersebut sambil merapal beberapa mantra, suara pekikan keras layak nya hewan yang di sembelih terdengar melengking saat Mbah Sarwoto secara perlahan menggeser tangannya dari dahi ke ujung kepala gadis itu. Perlahan-lahan gadis yang awalnya memberontak mulai terkulai lemas tak berdaya. Mbah Sarwoto segera bangkit dan menyuruh ayah dari gadis tersebut untuk membawa gadis itu ke tempat tidurnya. Ibu nya terlihat sedikit tersenyum dengan raut wajah yang masih terisak menghampiri putrinya yang terbaring di tempat tidur. Mbah Sarwoto melihat ke arah gadis itu lalu keluar dari sana di ikuti oleh ayah dari gadis tersebut.
"Matursuwun, Mbah Woto." Ucap ayah dari gadis tersebut
"Nggeh sami-sami, Jan." Ujar Mbah Sarwoto ke pada Paijan nama ayah dari Gadis tersebut
"Emang anak mu kenopo toh, Jan sampai surup begitu ?"
"Aku yo mboten ngerti Mbah, kenopo Widya sampai kelebonan. Ngerti ku pas mau habis subuh, Widya nangis terus jerit-jerit. Lah pas di takoni karo mamak e malah mancal ndas e mamak e."
Mbah Sarwoto manggut-manggut mendengar penjelasan pak Paijan.
"Sak ngerti ku wingi Widya balek dari sawah, trus diam ora kayak biasanya."
"Sawah neng Brang Kidul ?" Tanya Mbah Sarwoto
"Mboten Mbah, sawah neng Brang Lor. Soale jarene diajak bibiknya garap sawah di sana."
Mbah Sarwoto terlihat berpikir sejenak.
"Opo anakmu masuk ke watu gajah, Jan ?" Tanya Mbah Sarwoto
"Ora lah Mbah, ora bakal wani." Jawabnya
Mbah Sarwoto pun berpamitan dan berpesan kepada Pak Paijan bila nanti terjadi apa-apa bisa langsung mencarinya di sawah.
**
Siang ini kami ke balai desa untuk bertemu Mbah Carik membicarakan tentang proker yang sudah kami sepakati semalam. Mbah Carik terlihat antusias dengan ide-ide yang kami berikan dan berjanji akan membantu tugas kami. Kami senang mendengar jawaban dari Mbah Carik yang memberikan sinyal positif kepada kami. Kami pun berpamitan dan bersama-sama pulang kerumah.
"Fiuhh..., Untung diterima Cah." Kata Bayu sambil duduk di teras
"Iyo, Yu. Alhamdulilah." Jawab Angga
"Nah kan kalau begini enak Mas, besok bisa kita kerjakan prokernya." Tambah Julia yang duduk sambil membawa buku di pahanya.
"Ya." Panggil Rijal
"Hmm opo, Jal ?" Sahutku
"Sampean bilang mau cerita soal kemarin ?" Tanya Rijal penasaran
Aku menatap kearah Topa dan Yuni yang terlihat agak gusar mendengar pertanyaan Rijal.
"Emang ada apa sih cah ?" Tanya Angga yang juga penasaran
Aku menghela napasku dan mulai bercerita detail tentang kejadian yang kami alami malam itu. Semua terdiam mendengarkanku. Rijal dan Angga nampak terkejut dengan kejadian yang kami alami. Angga segera melihat kearah pergelangan kaki Yuni yang masih nampak sedikit bekas cengkraman di kakinya.
"Lah terus sesudah itu, Ya ?"
"Jadi..." Aku melanjutkan ceritaku saat kami berenam berkumpul di ruang tengah.
**
Malam yang gelap dengan cahaya lampu ublik membuat kami merasa ketakutan. Topa memegang wajahnya yang sedikit berdarah di bibirnya setelah di hantam pintu oleh Yuni yang menendangnya dari dalam. Kami terdiam hingga suara detak jantung kami terdengar tak beraturan.
Brakkkk Brakkkk Brakkkk Brakkkkkkk
Suara keras bantingan pintu terdengar keras hingga membuat kami semua terkejut. Udara dingin mulai menjalar dari bawah kaki sampai ke ujung kepala. Kami berenam saling menatap satu sama lain. Yuni mulai menangis dan duduk bersimpuh sambil menutup matanya. Kami menjadi panik melihat keadaan Yuni yang semakin kencang menangis.
Brakkk Brakkkk
Suara hantaman pintu diiringi sayup sayup suara tangis dan tawa yang terdengar sangat jauh mulai terdengar di telinga kami. Kami bagai tertanam di pijakan kami masing-masing hingga suara itu perlahan menghilang. Aku mencoba melangkah melihat kearah bantingan pintu di arah dapur. Hawa dingin membuat bulu kudukku di tengkuk leher berdiri. Aku berjalan lebih dahulu sambil memegang senter diikuti Bayu serta teman-teman yang lain, hanya tersisa Laras yang terlihat menenangkan Yuni di ruang tengah.
Kreeewtt Kreewtttt....
Suara pintu dapur yang terbuka dan menutup dengan sendiri menjadi pemandang tak lazim yang kami saksikan kala itu. Aku ingat betul bahwa pintu di dapur sudah terkunci dengan rapat. Aku menyorot senter kearah pintu dapur sebelum tiba-tiba kami di kagetkan dengan bantingan keras pintu tersebut.
Brakkkkkkkk....
Sesosok tangan hitam dari arah luar terlihat memegang salah satu pilar pintu yang terbuka tersebut. Tangan yang hitam seperti membusuk sedikit demi sedikit merayap memegang kayu yang berada disana. Sebuah kepala dengan rambut acak-acakan serta mata merah dan muka yang hancur terlihat mengintip kami dari balik pintu. Aku melonjak ketakutan dan berlari menerobos Bayu dan Topa yang terlihat sama ketakutannya denganku. Kami berlari menuju keluar dan menendang apa saja yang kami lalui tanpa pikir panjang. Julia segera menarik Yuni yang menangis semakin menjadi-jadi keluar. Pekikan minta tolong keluar dari mulut kami dengan rasa takut yang mengalir di setiap pembuluh darah.
**
"Astaga, itu seriusan ?" Ujar Rijal setelah mendengar ceritaku
"Sampean kira kami berenam bercanda, Jal ?" Kataku sambil menghisap rokok
Rijal terlihat sedikit khawatir, apa lagi setelah melihat keadaan Yuni yang terlihat masih ketakutan dengan kejadian yang dia alami.
"Tapi syukur lah kalau kalian tidak apa-apa." Tambahnya
"Semoga tidak ada kejadian seperti ini lagi di kemudian hari." Ucap Rijal
Aku memandang Topa. Kami berdua sepakat merahasiakan tentang apa yang kami alami tadi malam.
**
Langit mulai mendung, musim hujan akan datang membawa badai yang akan datang membawa tabir tentang masa lalu yang kelam di desa ini.

