Desa Terlarang | Part 7

 Sudah hampir 2 minggu kami berada di desa ini. Proker yang kami kerjakan pun mendapatkan antusiasme yang baik dari warga sekitar. Anak-anak menjadi dekat dengan kami karena mengajari mereka baca tulis dan menjadi guru sementara di sini. Mbah Carik terlihat puas melihat kinerja kami. Aku, Angga dan Yuni sedang mendapat bagian mengajar di sore ini di rumah Mas Bambang. Terlihat anak-anak yang riang gembira dengan balutan bedak yang memenuhi wajah mereka. Candaan dan tawa menbuat kami lebih bersemangat untuk mengajar.

"Alhamdulilah ada yang bantuin." Ujar Mas Bambang

"Ekh, Mas." Kataku menggeser tempat duduk ku yang sedang melihat Yuni dan Angga yang kala itu sedang mengajar

Mas Bambang duduk di samping ku, dengan membawa segelas teh di tangannya.

"Mau ?" Tawar Mas Bambang yang menyodorkan teh di depanku

"Akh-"

Belum sempat ku melanjutkan perkataanku. Mas Bambang langsung meminum teh di depannya.

"Akh... Manis lo." Sambil mencium aroma teh yang masih tersisa

"Kalau mau ya buat sendiri, anggap saja rumah sendiri Mas." Seloroh Mas Bambang sambil tertawa

"Nggeh mas nggeh.. " Kata ku tersenyum

"Tapi yo, rumahku jangan dijual ya. Mentang-mentang rumah sendiri nanti malah di jual sama sampean." Ujar Mas Bambang yang membuatku tertawa karenanya.

"Yo gak lah, Mas. Ada-ada aja." Kataku sambil tertawa

Aku mengobrol agak lama dengan Mas Bambang sebelum akhirnya Yuni dan Angga datang menghampiri kami.

"Loh, wis rampung ?" Tanya Mas Bambang

"Sampun, Mas. Anak-anak disini cepat nangkep pelajarannya, jadi ya cepet selesai." Jawab Yuni

Kami bertiga lalu berbincang dengan Mas Bambang. Mas Bambang orang yang sederhana dan sangat bersahabat di luar tanggung jawabnya sebagai salah satu juru kunci di desa ini. Dia banyak bercerita tentang dirinya yang bilang dahulu sebagai pemuda yang di rebutkan oleh banyak wanita di desa ini.

"Wah berarti sampean hebat mas." Ujarku kepada Mas Bambang

"Wah nggeh Mas, wanita yang ku tolak dulu gak bisa di hitung jari." Katanya sambil mengacungkan satu jarinya

"Loh, itu cuma satu, Mas ?" Tanya Angga

"Satu ini yang gak nembak saya dulu mas." Ujar Mas Bambang

"Halah, pinter bohong kamu Mas. Mana ada perempuan yang mau sama kamu dulu." Ucap seorang wanita dari dalam rumah Mas Bambang

Seorang perempuan dengan rambut panjang yang di kucir kuda duduk di samping Mas Bambang.

"Hush ! Jangan buka aib toh dek." Kata Mas Bambang yang terlihat malu

"Loh, emang bener kok." Jawab wanita itu

Kami tertawa melihat mereka berdua. Perempuan yang duduk di samping Mas Bambang adalah istri Mas Bambang yang bernama Cuplis.

"Tapi kamu mau toh sama saya ?" Goda Mas Bambang kepada istrinya

"Ya mau gak mau, daripada tiap hari ngintilin terus." Jawabnya sambil mencubit perut Mas Bambang

**

Seorang pemuda terlihat berjalan dari brang kidul dengan membawa karung di pundaknya.

"Ariya !" Seru Mas Bambang

Pemuda itu melihat asal suara yang memanggilnya. Ariya segera menghampiri Mas Bambang yang sedang duduk bersama kami di rumahnya.

"Ko ndi awakmu le ?" Tanya Mas Bambang

"Iki Mas, habis ambil sambiroto dekat kuburan untuk obat mamak." Jawab Ariya

"Loh, mamakmu kenopo, Ri ?" Tanya Mbak Cuplis

"Ora opo-opo bukde, buat jamu tok."

Aku melihat kearah Mas Ariya. Umurnya terlihat tidak berbeda jauh dengan Mas Bambang.

"Daun itu buat apa, Mas ?" Tanyaku

"Oh ini buat obat, Mas." Jawab Ariya

"Yowis nek ngono aku pamit mau pulang dulu, Mas." Ucap Ariya berpamitan dengan kami dan Mas Bambang

"Nanti malam aku kerumahmu, Ri. Sekalian lihat bukde." Kata Mas Bambang sebelum Ariya pergi

Ariya melanjutkan perjalanan pulangnya. Tak lama setelah itu kami pun berpamitan untuk pulang kerumah. Ditengah perjalanan kami bertemu dengan Arif dan Lastri yang terlihat sedang pulang bersama dari arah brang lor.

"Mas, Mbak." Sapa Yuni saat kami berpapasan

"Nggeh, Mbak." Jawab Lastri

"Dari rumah Mas Bambang, Mbak ?" Tanya Arif

"Iya, Mas. Habis ngajar anak-anak tadi." Jawab Yuni

"Mas sama Mbaknya dari mana ?" Tanya Yuni balik

"Dari rumahnya Pak Paijan Mbak, liat Widya." Jawab Arif

"Gimana keadaan Mbak Widya Mas ?"

"Keadaannya sudah membaik Mbak, cuma masih tidak mau diajak bicara."

Aku mendengar pembicaraan mereka, memang beberapa minggu lalu kami mendengar desas-desus tentang seorang yang kesurupan di desa ini. Arif dan Lastri melanjutkan perjalanannya dan kami pun pulang kerumah.

Diteras terlihat Topa, Rijal dan Bayu sedang duduk menikmati suasana sore di desa ini. Aku duduk sebelah Topa dan mengambil rokok yang ada di depannya.

"Julia sama Laras dimana, Mas ?" Tanya Yuni

"Di bawah paling dek mandi." Ujar Topa

"Oh, yowis lah aku mau nyusul." Ujar Yuni sambil masuk kedalam

Topa terlihat memandangi Yuni dengan seksama.

"Ojo aneh-aneh koe, Pa." Kataku sambil menepuk dahinya

"Hiss ! Gak lah." Jawabnya

"Oiya Cah." Ujar Angga

"Opo ?" Jawab Topa

"Kemarin, pas aku ke sawah lihat orang masuk ke gubuk yang di seberang sungai itu bawa sesajen."

"Mbah Sarwoto paling." Jawab Bayu

"Bukan, Yu. Orang masih muda kok."

"Lah sopo terus ?"

Bayu mengangkat pundaknya

"Bukannya gubuk itu tempat keramat, Yu ?" Ucap Topa

"Iyo, Pa. Aku dikasih tahu sendiri sama Mbah Gani. Makanya kita gak di perbolehin masuk kesana." Ujar Bayu

"Tapi aku kemaren masuk kesana cah." Kata Angga

"Weh, Ngga. Ojo sembrono sampean." Ujar Bayu

"Iyo, Ngga. Kita sudah di di nasehati jangan asal ke tempat keramat di desa ini." Tambah Rijal

"Yo maaf cah, aku penasaran soalnya di dalam sana ada apa." Seloroh Angga

"Emang di sana ada apa aja, Ngga ?" Tanya Topa

Aku melirik ke Angga dan penasaran dengan apa yang di lihatnya.

"Kembang tujuh rupa, kopi dengan-"

"Dengan opo, Ngga ?" Tanyaku penasaran

"Bangkai kepala kambing."

Kami sedikit terkejut dengan jawaban Angga. Aku sedikit bingung, bila sesajen kembang tujuh rupa dengan kopi masih normal, kalau kepala kambing untuk apa ?

**

"Assalammualaikum."

"Waalaikumsallam." Jawab Ariya dari dalam rumah

Ariya membuka pintu rumahnya, terlihat Mas Bambang dan istrinya datang kerumah Ariya malam ini.

"Ekh, Mas monggo masuk." Sambil mencium tangan Mas Bambang

"Mamak neng ndi, Ri ?" Tanya Mbak Cuplis

"Enek Bukde neng jero." Jawab Ariya

"Ekh, Bambang, Cuplis mrene." Kata seorang wanita yang sedang duduk di kursi goyangnya

"Bukde." Sapa Mas Bambang sambil mencium tangan wanita itu diikuti oleh Mbak Cuplis

"Tumben mrene awakmu Bambang ?"

"Pingin dolan ae Bukde, piye Bukde sehat ?" Tanya Mas Bambang

"Alhamdulilah." Jawabnya

"Ri, gawek ke Pakde karo Bukde mu teh kono." Teriaknya

"Nggeh Mak." Jawab Ariya sambil menuju ke dapur dengan lampu ublik yang di pegangnya

Ibu Kasiah atau biasa di sebut sebagai Mbok Kasi merupakan ibu dari Ariya. Mereka berdua tinggal hanya berdua di rumah setelah suami Mbok Kasi meninggal akibat kejadian 20 tahun lalu. Ariya sendiri merupakan keponakan dari Mas Bambang.

"Monggo di minum Mas, Bukde." Kata Ariya seraya meletakan teh di meja

"Matursuwun, Ri." Ucap Mbak Cuplis

"Nggeh sami-sami, Bukde."

"Awakmu keliling nko, Ri ?" Tanya Mas Bambang

"Iyo, Mas paling bentar lagi Arif dengan Bewok jemput."

Mas Bambang berbincang dengan Mbok Kasi hingga terdengar suara Arif dan Bewok memanggil Ariya. Ariya lalu berpamitan kepada mereka untuk berkeliling desa bersama Arif dan Bewok. Perbincangan hingga larut malam yang tidak melarutkan apa-apa.

**

Malam ini aku duduk di pojok tempat tidurku. Aku menghidupkan sebatang rokok dan menghembuskannya dalam-dalam. Sudah beberapa hari ini kegiatan kami lancar tanpa ada kendala apapun. Jujur aku sangat senang dan berharap semuanya cepat selesai.

"Ya." Panggil Topa

"Dalem." Jawabku

"Belum tidur sampean, Ya?"

"Akh, ora bakal iso tidur aku."

"Podo, Ya."

"Kenopo toh cah ?" Tanya Bayu yang seperti terbangun mendengar obrolan kami

"Ora opo-opo, Yu." Jawabku sambil menaruh rokok di asbak

"Sampean berdua ki, perasaan aku nek wengi ra pernah turu. Usek ae kerjananmu." Ujar Bayu sambil mengambil rokok di depan Topa

"Lah piye kon iso turu, Yu. Mendino tiap wengi digangguin terus." Ujar Topa

"Diganggu opo toh, Pa. Lah perasaanku yo adem tentrem kok."

"Pancen kui sing gawe aku bingung. Sing diganggu lo cuma aku karo cah kae." Kata Topa sambil menunjukku

"Lah emang sampean ora ngerakse, Yu." Tanyaku

"Ora, Ya."

Aku menatap Topa bingung dengan keadaan ini. Setelah rumah ini di bersihkan langsung oleh Mbah Gani, teman-temanku kecuali aku dan Topa tidak mendapatkan gangguan yang hampir tiap malam kami alami. Gangguan yang sangat mengganggu waktu istirahatku, mulai dari bau bunga ataupun anyir yang muncul tiba-tiba ataupun suara tangisan rintih dan tawa yang sering kami dengar.

**

Tatapan kosong pemuda ini melihat kearah bulan meninggalkan dua temannya yang berjalan di depannya. Apa yang sedang dia pikirkan ?