Desa Terlarang | Part 9

 Malam ini kami bersantai seperti biasanya. Membicarakan banyak hal mulai dari proker sampai pembicaraan mengenai masa lalu. Aku keluar ke teras rumah bersama Topa dan di susul oleh Bayu dan Angga.

"Pemandangan atas bukit emang the best pokok e cah." Kata Angga sambil mengacungkan jempolnya

"Iya, Ngga. Disini kelestarian alamnya masih terjaga." Tambah Bayu

"Iyasih memang, tapi minim pembangunan juga bakal menyulitkan buat kedepannya." Kataku

"Maksud e ?" Tanya Angga

"Yah contohnya jalan. Akses ke desa ini bisa dibilang lumayan susah apalagi pas musim penghujan, belum lagi masalah MCK. Masyarakat disini masih mengandalkan sungai untuk mandi sekaligus buang air." Tambahku

Angga terlihat termenung mendengar ucapanku barusan.

"Belum lagi listrik yang sampai sekarang belum masuk sampai daerah sini." Kataku kembali

"Bener, Mas. Pendidikan disini pun masih tertinggal jauh dengan tidaknya adanya sekolah yang menampung untuk kegiatan belajar anak-anak." Tambah Laras yang sekarang ikut duduk bersama kami

"Sebenarnya banyak untung dan rugi soal masalah itu. Keuntungan dengan minimnya pembangunan di daerah ini dapat melestarikam alam sebagai mana adanya. Sedangkan kerugiannya ya jauh dari kemajuan bisa dibilang." Ujar Topa

"Sek weh, Topa. Tumben ?" Kataku

"Tumben piye, Ya ?" Tanya Topa

"Tumben otakmu encer."

"Cocot mu lo."

Kami tergelak bersama di teras rumah saling bercanda bersama.

"Mas....." Terdengar rengekan yang datang dari dalam rumah menghampiri kami

"Opo toh dek ?" Jawab Topa

"Sapu tanganku gak ada." Katanya dengan mata yang berkaca-kaca

"Lah emang sapu tanganmu kemana, Yun ?" Tanyaku

"Ish gak tau, Mas. Tadi ada sekarang gak ada." Jawabnya

"Hmm, mungkin ketinggalan di rumah Mbah Sarkem dek." Ujar Topa

Aku pun mengingat bahwa saat kami pulang sore tadi kami sempat bertamu ke salah satu rumah juru kunci brang kulon yaitu Mbah Sarkem.

"Mungkin, Mas. Ayok kawani Yuni ambil sapu tangannya." Pinta Yuni agak memelas

"Wis wengi lo Dek, besok aja gak bisa apa." Kataku

"Ish, Mas. Aku takut hilang lo. Itu pemberian Almarhum Ibuku." Ucapnya

"Wis yok ku kawani, Yun." Ujar Topa

Yuni mengangguk tanda setuju dan segera ke dalam mengambil jaket miliknya.

"Ayok, Ya melok." Ajak Topa

"Akh moh, Pa." Aku menolaknya

"Ekh ojo ngono, Ya. Itu sapu tangan berharga lo. Pemberian Almarhum Ibunya Yuni. Sampean mau dimarahi Ibunya ?" Seloroh Topa

"Tapikan Ibu e wis Almarhum, Pa. Gak bisa marah-marah." Kataku

"Emang, Ya. Ibuknya gak bakal marah, wong paling Ibuknya diem doang udah serem." Jawabnya sambil tertawa

"Matamu lo, Pa." Ujarku

"Lah iki ada Bayu sama Angga, sama mereka aja kenapa." Kataku sambil menunjuk kearah Angga dan Bayu

Mereka berdua langsung balik badan dan berpura-pura berdiskusi.

"Oalah koncoku bi*dab kabeh." Ucapku

"Ayok, Mas." Ajak Yuni yang sudah memakai jaket dan memegang senter untuk penerangan kami

Aku pun dengan malas mengikuti Topa dan Yuni yang sudah berjalan duluan. Di perjalanan aku menghisap rokokku dalam-dalam untuk mengusir hawa dingin malam ini. Suasana malam dengan bulan yang nampak malu menampakannya dirinya di tambah angin yang sesekali bertiup agak kencang cukup membuatku menyesal tidak memakai jaket kala itu. Perjalananku malam ini di temani dengan rayuan Topa yang masih berusaha mendekati Yuni.

"Awas Dek, hati-hati." Ucap Topa sering kali saat melewati jalanan yang agak terjal itu

Aku tetap mengikuti di belakang mereka sambil terkadang menahan tertawa karena sikap cuek Yuni terhadap Topa.

"Ekh, Mas." Ujar Yuni menghentikan langkahnya

"Kenapa, Dek ?" Tanya Topa

"Mas bukannya rumah ini tadi sore pintunya tertutupkan ?" Kata Yuni sambil menyorotkan senternya ke arah rumah besar yang berada di brang kulon ini

"Lah, iya." Kataku melihat rumah yang pintunya terbuka lebar tersebut

"Mungkin gara-gara angin, sudah ayok rumah Mbah Sarkem bentar lagi sampai." Ajak Topa

Kami pun segera melanjutkan perjalanan ke kediaman Mbah Sarkem dengan perasaan yang sedikit tidak enak. Kami bertiga akhirnya sampai di sebuah rumah yang terlihat pijar cahaya remang dari lampu ublik menembus keluar.

"Assalammualaikum, Mbah." Seru Yuni sambil mengetuk pintunya agak pelan

Tak lama pintu di buka oleh seorang pemuda yang menatap kami satu persatu dengan tajam.

"Maaf, Mas Mbah Sarkemnya ada ?" Tanya Yuni kepada pemuda tersebut

"Suruh mereka masuk, Lif !" Terdengar suara Mbah Sarkem dari dalam rumah

Pemuda bernama Alif tersebut lalu menyuruh kami masuk ke dalam rumah. Kami pun segera masuk dan di susul Alif yang mengikuti dari belakang.

"Wah matursuwun, Mbah udah di simpan." Ujar Yuni yang terlihat girang setelah melihat sapu tangannya sudah kembali

"Iyo, Nduk. Tadi Alif yang nemuin di bawah kursi." Kata Mbah Sarkem

"Suwun yo, Mas." Ucap Yuni berterima kasih kepada Alif yang terlihat sedang mengasah parangnya

Alif hanya mengangguk tanpa banyak bicara, jujur saja hal itu membuat kami agak canggung. Namun Mbah Sarkem dengan keserdehanaannya membuat kami sedikit lebih baik. Suara gemuruh di langit mulai terdengar menandakan hujan yang akan turun sebentar lagi, kami segera berpamitan kepada Mbah Sarkem dan Alif untuk segera pulang. Awalnya Mbah Sarkem menyuruh kami untuk menginap di rumahnya, namun kami tidak ingin membuat teman-teman kami khawatir. Kami berjalan dengan agak tergesa-gesa karena takut apabila hujan turun saat kami masih dijalan. Topa berjalan di depan sambil memegang senter sebagai pemimpin di grup kecil ini. Yuni terlihat mencengkram erat tanganku dengan kuat. Di tengah perjalanan tiba-tiba Topa berhenti dan otomatis kami pun mengikutinya berhenti.

"Ngopo toh, Pa ?" Tanyaku setelah melihat Topa yang berhenti tiba-tiba

"Lihat, Ya. Pintunya tertutup lagi." Katanya sambil menunjukkan rumah besar itu

Aku segera melihat kearah rumah tersebut. Yuni terlihat semakin erat memegang tanganku. Aku merasakan sensasi aneh saat itu dimana angin yang awalnya berhembus dengan kencang tiba-tiba menjadi tenang bahkan bisa di bilang kami tak lagi merasakan hembusan angin. Udara panas mulai menjalar di badanku, keringat mulai merembes membasahi belakang punggungku. Suara keras decit pintu membuat telingaku agak sakit, terlihat secara perlahan pintu yang awalnya terkunci itu tiba-tiba terbuka sedikit demi sedikit hingga akhirnya terbuka sepenuhnya. Aku dan Topa terdiam mematung melihat kejadian ini. Sebuah pekikan keras dari Yuni menyadarkan kami, aku segera melihat kearah Yuni yang tiba-tiba menjerit.

"Pa !!" Teriakku memanggil Topa

Topa segera menyenter kearah Yuni yang terlihat gemetaran secara tiba-tiba

"Astagfirruloh, Ya. Kaki Yuni." Teriak Topa

Aku segera melihat kearah kakinya, terlihat sebuah tangan hitam memegang erat pergelangan kaki Yuni.

BRUKKKK....!!!!

Suara benda keras jatuh kembali mengejutkan kami. Topa segera mencari sumber suara tersebut. Dalam keadaan panik Topa menyorotkan senternya ke segala arah. Sebuah kilatan petir membuat malam yang gelap menjadi terang selama beberapa detik, sebuah penampakan mengerikan kami saksikan kala itu. Pemandangan waktu itu sungguh membuatku trauma sampai saat ini. Terlihat dengan jelas di pintu rumah itu, terlihat sesosok manusia tanpa kepala sedang berdiri menghadap kami seolah-olah sedang menatap kami.  Aku segera melepaskan tanganku dari cengkraman Yuni dan segera berlari meninggalkan Yuni yang terlihat terjatuh akibat ulah ku dan Topa di sana. Suara teriakan Topa dan tangisan Yuni tak lagi ku hiraukan, aku hanya sekuat tenaga ku berlari dan terus berlari dari mimpi buruk ini.

**

Bayu dan Angga masuk ke dalam rumah setelah melihat cuaca yang sebentar lagi akan hujan. Terlihat Rijal, Julia dan Laras sedang mengobrol di ruang tengah dengan asyiknya.

"Tutup aja, Ngga pintunya." Kata Bayu sesaat setelah masuk ke rumah

"Tapi mereka belum pulang gitu." Ujarnya

"Wis gak apa toh asal jangan di kunci." Tambah Bayu

BRAKKKK ...!!

Aku mendobrak pintu yang tertutup dengan sekuat tenaga. Angga dan Bayu menatapku dengan heran.

"Kenopo toh, Ya." Ujar Bayu yang melihatku tersungkur di depan pintu dengan keadaan hampir kehabisan napas

Aku tidak menjawab pertanyaan dari Bayu. Badanku gemetaran tak kuat menahan rasa takut yang baru saja aku alami. Terlihat Julia menyodorkan segelas air minum kepada ku. Aku melihat sekilas wajah panik teman-temanku dengan penuh tanya.

"Topa sama Yuni mana, Ya ?"

Pertanyaan yang berulang-ulang ini membuatku sedikit gila. Aku segera meneguk air pemberian Julia dengan cepat, sedikit demi sedikit akhirnya aku bisa kembali mengontrol tubuhku sendiri untuk saat ini.

"BAJING*N, EDAN KOE YA!!" Suara umpatan dari Topa yang terlihat marah setelah melihat aku yang pengecut melarikan diri

Aku melihat kearah Topa yang sedang menggendong Yuni di punggungnya. Yuni sesenggukan menangis di pundak Topa. Topa dengan pelan menurunkan Yuni dan segera di tolong oleh Laras dan Julia yang khawatir melihat keadaan Yuni waktu itu. Topa segera menghampiriku dan mengangkat kerah baju ku sambil mengepalkan tangannya. Rijal dan Angga terlihat menahan Topa yang marah dengan kelakuanku. Topa segera di dorong kebelakang oleh Angga dan Rijal sehingga membuat baju ku sobek karena tarikannya. Terdengar umpatan dan caci maki yang terlontar dari mulut Topa saat itu. Aku hanya terdiam di tempatku menerima semua hinaan yang di lontarkan oleh Topa tanpa bicara sepatah kata pun. Bayu memandangiku yang terlihat tertunduk tak berdaya.


**

Sebuah kejadian besar di desa malam itu menjadi awal mula tragedi yang akan terulang kembali. Sebuah rahasia kelam masa lalu mulai terkuak dengan adanya kejadian ini.

Rintik hujan dan gelapnya malam tak menghentikan langkah mantap pemuda ini menuju 𝐵𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑢𝑙𝑜𝑛, dengan sebilah parang ditangan kanannya dan kepala manusia yang sudah terpotong terbungkus kain hitam ditangan kirinya. Dengan tatapan tajam dan rasa dendam yang sudah tertanam 20 tahun silam, pemuda ini menuju ketempat yang bahkan warga di desa ini dilarang untuk memasukinya. Sebuah lahan kecil, tanpa adanya satu pohon pun yang tumbuh disana, hanya pagar dari kawat berduri yang menjadi benteng terakhir dari tempat yang dikeramatkan oleh penduduk desa ini.

"Akan kumulai tragedi 𝑃𝑎𝑙𝑢𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑦𝑖𝑡 di desa terkutuk ini."