Kamar 203


Aku pindah ke rumah kos tua di pinggir kota karena harganya murah dan dekat kampus. Bangunannya dua lantai, catnya mengelupas seperti kulit orang yang terlalu lama berendam. Pemilik kos bilang kamar paling ujung lantai dua kosong sejak lama. Nomornya 203. Katanya, "Anak terakhir yang tinggal di situ pindah mendadak." Aku tidak bertanya kenapa. Harga murah tidak pernah perlu alasan logis.

Penghuni kos hanya lima orang termasuk aku. Mereka jarang keluar kamar. Lorong selalu sunyi, hanya suara kipas angin dan tetesan air dari kamar mandi bersama. Setiap malam sekitar pukul dua, selalu terdengar bunyi seperti kursi digeser dari kamar 203. Padahal kamar itu milikku sekarang, dan aku tidak pernah menggeser kursi tengah malam.

Beberapa hari pertama aku mengira itu cuma tikus. Sampai suatu malam aku lupa mematikan lampu dan tertidur. Aku terbangun karena merasa ada yang duduk di tepi kasurku. Kasurku amblas sedikit. Aku tidak berani membuka mata. Aku hanya mendengar napas pendek-pendek seperti orang menahan tangis.

Sejak malam itu, aku sering menemukan hal aneh. Pintu kamar mandi yang kukunci terbuka sendiri. Gantungan handuk jatuh padahal tidak ada angin. Dan bau lembap seperti kain busuk selalu datang dari pojok kamarku, tepat di dekat lemari tua yang sudah ada sejak aku pindah.

Aku mulai mendengar suara perempuan dari dalam lemari. Pelan, seperti sedang belajar berbicara lagi.

"Tolong... jangan dikunci lagi..."

Aku kira aku stres karena tugas kuliah. Aku mencoba mengabaikannya. Tapi setiap malam suara itu semakin jelas. Kadang menangis, kadang tertawa pendek. Aku menggedor lemari itu suatu malam dan berteriak agar berhenti.

Sejak itu, suara berhenti.

Sebagai gantinya, muncul bau lebih menyengat. Seperti daging lama yang disimpan tanpa es.

Aku membuka lemari itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada dinding kayu yang berbeda warnanya. Lebih baru. Aku congkel sedikit dengan obeng. Di balik papan itu ada ruang sempit. Gelap. Dan sesuatu tergeletak di dalam.

Aku tidak menjerit. Aku hanya duduk di lantai lama sekali.

Tulang manusia. Masih terbungkus kain kampus.

Besoknya aku lapor ke pemilik kos. Polisi datang. Lorong penuh orang. Mereka bilang tulangnya milik mahasiswi yang hilang dua tahun lalu. Pelaku belum ditemukan.

Semua orang mengira misteri sudah selesai.

Malam itu aku kembali ke kamar 203. Aku tidak bisa tidur. Bau busuk masih ada walau tulang sudah diangkut.

Sekitar pukul dua, aku mendengar kursi digeser lagi.

Lalu suara perempuan itu kembali, kali ini tepat di belakangku.

"Sekarang kamu tahu rasanya dikunci di sini."

Aku berbalik.

Tidak ada siapa-siapa.

Kecuali pintu lemari yang tertutup rapat dari luar.

Aku menggedor pintu kamar. Tidak ada yang membuka. Aku menjerit sampai suaraku habis.

Besok pagi, penghuni kos menemukan kamarku terkunci dari luar.

Di dalam kamar 203 hanya ada bau lembap dan satu kursi yang menghadap lemari.

Aku pindah? Tidak.

Aku masih di sini.

Aku hanya belajar berbicara pelan sekarang.

"Tolong... jangan dikunci lagi..."